Sekolah Rakyat Rembang
Sekolah Rakyat Rembang mulai menggelar kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), Jumat (31/7).(Dok. Diskominfo Rembang)
|

225 Siswa Sekolah Rakyat Terintegrasi Rembang Mulai Ikuti MPLS

REMBANG[BahteraJateng] – Sebanyak 225 siswa Sekolah Rakyat (SR) Terintegrasi Kabupaten Rembang mulai mengikuti kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) pada Jumat (31/7). Kegiatan tersebut menjadi tahap awal bagi para siswa untuk beradaptasi dengan lingkungan pendidikan berasrama yang baru.

Sekolah Rakyat Terintegrasi Rembang diperuntukkan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu yang masuk kategori Desil 1 dan 2 di Kabupaten Rembang. Para siswa mengikuti pendidikan pada jenjang SD, SMP, dan SMA dengan sistem asrama.


Kepala Sekolah Rakyat Rembang, Wahyu Tri Setio Budi, mengatakan sekolah telah menyiapkan berbagai fasilitas untuk menunjang kegiatan belajar dan pengembangan minat siswa.

“Fasilitas laboratorium, lapangan mini soccer, lapangan basket, lapangan voli, serta tempat ibadah bagi muslim dan nonmuslim,” kata Wahyu.


Meski demikian, sejumlah fasilitas masih dalam tahap penyelesaian, khususnya asrama putra dan putri untuk jenjang SMP dan SMA.

Bupati Rembang Harno yang diwakili Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah Kabupaten Rembang sekaligus Ketua Tim Transisi Sekolah Rakyat, Teguh Gunawarman, berharap para siswa dapat segera beradaptasi dengan lingkungan sekolah dan pola pendidikan berasrama.

Menurutnya, dukungan serta kepercayaan orang tua juga menjadi faktor penting dalam keberhasilan program Sekolah Rakyat.

Sekolah Rakyat Terintegrasi Kabupaten Rembang dibangun dengan dukungan anggaran pemerintah pusat sekitar Rp200 miliar. Sekolah tersebut menampung 225 siswa, terdiri dari 10 siswa SD, 95 siswa SMP, dan 90 siswa SMA asal Kabupaten Rembang.

Selain itu, terdapat 30 siswa titipan dari Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 18 Blora hingga pembangunan gedung SRMA 18 Blora rampung.

Pemkab Rembang berharap pendidikan berasrama dengan dukungan fasilitas penunjang tersebut mampu mendorong perkembangan siswa, baik secara akademik maupun nonakademik, sekaligus membuka peluang bagi mereka untuk meningkatkan kualitas hidup pada masa mendatang.(sun)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *