Nasikhin
Dr. Nasikhin (tengah) seusai promosi Doktor di lantai 3, Kampus I UIN Walisongo Semarang, Senin (9/6).(Dok. UIN Walisongo)
|

Dari Buku Bekas Seribu Rupiah ke Gelar Doktor di UIN Walisongo: Perjalanan Nasikhin Menaklukkan Keterbatasan

SEMARANG[BahteraJateng] – Langkahnya tenang ketika memasuki Ruang Promosi Doktor Lantai 3 Kampus I UIN Walisongo Semarang pada Senin (9/6). Di hadapan para penguji, akademisi, dan tamu undangan, Nasikhin akhirnya mendengar kalimat yang selama bertahun-tahun diperjuangkannya.

“Saudara Nasikhin dinyatakan lulus dengan IPK 3,89.”

Kalimat itu disampaikan Ketua Sidang, Rektor UIN Walisongo Semarang Prof. Musahadi. Tepuk tangan memenuhi ruangan. Namun bagi Nasikhin, gelar doktor bukan sekadar capaian akademik. Ia adalah jawaban panjang atas perjuangan hidup yang dimulai dari jalanan desa, tumpukan barang bekas, dan buku-buku lusuh seharga seribu rupiah.

Jauh sebelum mengenakan toga doktor, Nasikhin pernah menghabiskan masa kecil dan remajanya sebagai pemulung. Pada 2012 hingga 2017, ia menyusuri kampung demi kampung bersama sang ibu untuk mencari barang bekas yang bisa dijual kembali demi membantu ekonomi keluarga.

Di tengah kehidupan yang serba terbatas itu, ada satu kebiasaan sederhana yang diam-diam mengubah hidupnya.

Sang ibu kerap membawa pulang buku-buku bekas kiloan. Kadang dibeli murah, kadang diberi warga secara cuma-cuma. Sebelum buku-buku itu dijual ke pengepul, Nasikhin kecil selalu menyempatkan diri membacanya terlebih dahulu.

Buku-buku lusuh yang nyaris dianggap sampah oleh orang lain justru menjadi jendela pengetahuan baginya.

Dari halaman-halaman bekas itulah tumbuh rasa ingin tahu, kecintaan terhadap ilmu, dan keyakinan bahwa pendidikan bisa mengubah nasib seseorang.

“Kalau orang lain melihat barang bekas, saya melihat kesempatan belajar,” begitu kira-kira perjalanan hidupnya bisa digambarkan.

Semangat itu terus membawanya melangkah. Saat kuliah S-1 di UIN Walisongo Semarang, Nasikhin berhasil memperoleh beasiswa Bidikmisi. Kesempatan itu menjadi pintu pertama yang membuka jalan akademiknya.

Ia tidak berhenti di sana. Program magister diselesaikan melalui beasiswa lulusan sarjana terbaik UIN Walisongo, lalu pendidikan doktor ditempuh menggunakan program Beasiswa Indonesia Bangkit (BIB) dari Kementerian Agama Republik Indonesia.

Setiap jenjang pendidikan yang dilaluinya seolah menjadi bukti bahwa keterbatasan ekonomi bukan akhir dari segalanya.

Kini, Nasikhin dikenal sebagai akademisi produktif. Sejak 2022, ia telah menghasilkan 131 publikasi ilmiah dan membangun kolaborasi riset internasional bersama akademisi dari Malaysia, Thailand, hingga Brunei Darussalam.

Namanya juga tercatat dalam publikasi ilmiah internasional bereputasi dengan 12 artikel terindeks Scopus Q1, Q2, dan Q3. Capaian itu terasa kontras dengan masa lalunya yang pernah memanggul karung barang bekas di jalanan.

Namun perjalanan Nasikhin bukan sekadar tentang gelar dan angka akademik.

Dalam disertasinya yang berjudul Literasi Artificial Intelligence dan Implikasinya dalam Pengembangan Keterampilan Abad 21, ia berbicara mengenai masa depan teknologi dan etika digital Islam. Ia ingin kecerdasan buatan tidak hanya dipahami sebagai alat modern, tetapi juga digunakan dengan landasan moral dan akhlak.

Barangkali, pandangan itu lahir dari pengalaman hidupnya sendiri: bahwa ilmu pengetahuan harus selalu berpihak pada kemanusiaan.

Kisah Dr. Nasikhin menjadi pengingat bahwa pendidikan tidak selalu lahir dari ruang nyaman. Kadang, ia tumbuh dari lorong kehidupan yang keras, dari tangan seorang ibu yang memungut barang bekas, dan dari anak muda yang memilih membaca buku lusuh sebelum menjualnya.

Hari ini, buku-buku bekas itu telah mengantarkannya menjadi doktor ke-409 UIN Walisongo Semarang.

Dan mungkin, di antara tumpukan buku tua yang dulu pernah dibacanya, tersimpan mimpi yang kini benar-benar menjadi nyata.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *