Dari Usaha Legen Sukses Antarkan Kedua Anak Sandang Gelar Sarjana
REMBANG[BahteraJateng] – Kabupaten Rembang memiliki minuman khas hasil menderes tanaman siwalan (Borassus flabellifer) yang dikenal dengan Legen. Bahkan, minuman legen ini sudah ada sejak awal abad 19 dan tercantum dalam serat centhini.
Salahsatu pemilik ratusan tanaman siwalan sekaligus pemilik Gubuk Legen, asal Desa Kebonagung, Kecamatan Sulang, Kabupaten Rembang, Suparno (64) mengungkapkan bahwa minuman legen hanya ada dua lokasi disekitaran tempat tinggalnya.

“Legen sekitaran sini cuman ada di dua tempat. Rembang sekitaran Landoh dan Tuban,” ungkapnya pada Bahterajateng pada Minggu (3/5).
Suparno atau akrab dipanggil Dhe No, menceritakan rangkaian menderes tanaman siwalan untuk diambil niranya.
“Proses awalnya panjang, bisa satu minggu kalau hasilnya baik. Pertama proses nyeples, membuat tempat penyangga bumbung (wadah terbuat dari bambu, red.) bisa sampai 5 hari. Ini tidak bisa dibuat satu hari jadi, tanaman akan stress dan hasil niranya kurang. Setelah itu, manggar jantan disayat dan direndam air bersih selama dua malam. Setelah perendaman, air dibuang, ditiriskan dua hari, kalau hasil tetesan niranya kurang, diulangi lagi dari penyayatan dan perendaman,” ujar Dhe No.
Dhe No juga mengungkapkan hasil produksi nira jika proses tersebut berjalan dengan baik sesuai harapan.
“Kalau proses tersebut berjalan baik dan benar, manggar jantan bisa menghasilkan nira sampai 3 bulan. Biasanya, satu hari bisa menghasilkan nira hingga 4,5 liter per pohon. Kalau manggar yang betina, biasanya kita ambil buahnya,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Dhe No mengungkapkan bahwa tanaman siwalan pertama kali bisa dideres, ketika sudah menginjak usia 30 tahun.
“Alhamdulillah, dari usaha menderes nira dan usaha jualan minuman legen, bisa mengkuliahkan anak pertama ke UNDIP, dan yang kedua di Brawijaya. Kuncinya, jaga kualitas barang yang dijual,” ujar Dhe No.
Dhe No pun mulai mengembangkan usahanya semenjak putrinya bersedia melanjutkan usaha dengan menerima pesanan dumbeg (makanan khas tradisional asal Rembang yang dibungkus daun lontar, red.).
“Satu bulan ini, sudah menghabiskan beras satu ton lebih untuk membuat dumbeg dan dibantu oleh 16 orang tetangga. Pesanan paling banyak ketika musim sedekah bumi seperti saat ini, dan konsumen saya Blora, Rembang, dan Pati,” pungkasnya.(day)

