Dies Natalis ke-56, UIN Walisongo Tegaskan Peran sebagai Mercusuar Peradaban dan Suara Kemanusiaan
SEMARANG[BahteraJateng] — Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang menegaskan komitmennya sebagai pusat ilmu pengetahuan dan penjaga nilai kemanusiaan dalam Sidang Senat Terbuka Dies Natalis ke-56 yang digelar di Gedung Tgk Ismail Yakub pada Senin (6/4).
Kegiatan yang diikuti sekitar 500 sivitas akademika dan tamu undangan ini dibuka oleh Sekretaris Senat, Ibnu Hadjar. Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara kemajuan dan nilai dasar institusi.

“UIN Walisongo harus menjadi mercusuar ilmu pengetahuan dan peradaban Islam. Kita wajib meningkatkan kualitas pendidikan dan tata kelola, sekaligus melahirkan lulusan yang cerdas dan peka sosial,” ujarnya.
Rektor UIN Walisongo, Prof. Musahadi dalam laporan tahunan menyampaikan berbagai capaian strategis, mulai dari penguatan infrastruktur akademik hingga peningkatan daya saing global melalui inovasi riset dan pengabdian masyarakat.
Puncak acara diisi orasi ilmiah oleh Dekan Fakultas Kedokteran, Sugeng Ibrahim, yang mengangkat tema “Merawat Bumi, Merawat Kemanusiaan: Peran Kedokteran, Konstitusi, dan Nurani Bangsa”. Ia menegaskan bahwa pendidikan kedokteran tidak hanya mencetak tenaga medis, tetapi juga penjaga kehidupan dan kemanusiaan.
“Fakultas Kedokteran melangkah dengan terapi regeneratif berbasis stem cell untuk menjawab tantangan penyakit berat. Namun yang utama adalah melahirkan dokter yang mengabdi dan memahami keterkaitan kesehatan manusia dengan bumi,” jelasnya.
Dalam orasinya, Sugeng juga menyoroti pentingnya kemandirian bangsa di tengah dinamika global serta mengkritik ketidakadilan internasional. Ia menegaskan bahwa Indonesia tidak boleh tunduk pada tekanan kekuatan besar.
“Keadilan tidak berpihak pada kekuatan, tetapi pada kebenaran,” tegasnya di hadapan peserta sidang.
Ia juga mengingatkan bahwa politik luar negeri Indonesia harus tetap berlandaskan prinsip bebas aktif yang berpijak pada nilai kemanusiaan dan nurani.
Menutup rangkaian acara, Sugeng menekankan pentingnya sinergi antara ilmu, nurani, dan keberanian dalam menjaga marwah institusi pendidikan.
“Jika ilmu tanpa nurani, ia menjadi alat kekuasaan. Jika nurani tanpa keberanian, ia hanya menjadi bisikan yang hilang,” pungkasnya.
Melalui momentum Dies Natalis ini, Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang meneguhkan perannya tidak hanya sebagai pusat akademik, tetapi juga sebagai suara moral yang berkontribusi bagi peradaban global.

