IPEMI Jateng
IPEMI Jateng dan My Bumi gelar Forum Seminar dan Kurasi Produk UMKM di Hotel Front One HK Semarang, Selasa (11/8).(Dok. IPEMI Jateng)
|

IPEMI Jateng Dorong UMKM Tembus Pasar Eropa, Belgia Jadi Pintu Masuk

SEMARANG[BahteraJateng] – Ikatan Pengusaha Muslimah Indonesia (IPEMI) Jateng berkolaborasi dengan My Bumi mendorong pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) Jawa Tengah meningkatkan kualitas produk agar mampu menembus pasar internasional, khususnya Eropa.

Upaya tersebut dilakukan melalui Forum Seminar dan Kurasi Produk UMKM bertema Green Passport to Europe: Empowering Small Business for Sustainable Global Impact di Hotel Front One HK Semarang pada Selasa (11/8).

Ketua IPEMI Jateng, Lies Iswar Aminuddin mengatakan, kegiatan tersebut menjadi langkah awal mempersiapkan UMKM menghadapi pasar Uni Eropa, termasuk peluang yang terbuka melalui Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA).

“Kolaborasi dengan My Bumi ini dalam rangka mendorong pemberdayaan ekonomi pengusaha muslimah agar mampu naik kelas ke pasar global. Sebagai langkah awal kita membidik pasar Belgia,” katanya.

Menurut Lies, Belgia diharapkan menjadi pintu masuk bagi produk UMKM Jawa Tengah untuk memperluas pasar ke negara Eropa lainnya. Setidaknya terdapat 80 jenis produk UMKM binaan IPEMI Jateng yang dinilai memiliki peluang untuk dipasarkan di Eropa.

Sejumlah produk yang berpotensi antara lain makanan ringan seperti coco chips, tomato chips, rengginang, serta aneka jamu. Selain itu, produk kerajinan rumah tangga seperti kelengkapan sofa, tas, topi hingga perabotan hotel juga dinilai memiliki peluang pasar.

“Rengginang banyak digunakan untuk bekal anak sekolah. Juga ada aneka jamu yang banyak disukai masyarakat Belgia. Tentunya peluang ini harus ditangkap dari sisi peningkatan kualitas makanan hingga kemasannya,” ujarnya.

CEO My Bumi sekaligus Ketua PPLN IPEMI Belgia, Fatmi Woro Dwi Martanti mengatakan, kesiapan sumber daya manusia menjadi salah satu faktor penting dalam keberhasilan ekspor.

Menurutnya, persoalan seperti pola pikir, kepemimpinan dan literasi bisnis kerap menjadi penyebab kegagalan ekspor sebelum persoalan fisik produk muncul.

“Kami memandang tahun 2026 sebagai waktu yang krusial bagi UMKM Indonesia untuk mempersiapkan diri sebelum perjanjian IEU-CEPA berlaku efektif,” katanya.

Persiapan tersebut mencakup peningkatan kualitas SDM, ketertelusuran rantai pasok, dokumentasi uji tuntas, sertifikasi berkelanjutan hingga kepatuhan terhadap aturan asal barang.

Sementara itu, Expert Eksport European, Emmanuel Weitzel menjelaskan, konsumen dan pembeli Eropa memiliki tiga pertanyaan utama terhadap produk impor, yakni dari mana produk berasal, bagaimana produk dibuat, dan apa dampaknya terhadap lingkungan.

“Penting juga transparansi ketertelusuran dan prinsip ‘buktikan kebenaran kecil, jangan janjikan kebohongan besar’ untuk membedakan produk jujur dari praktik greenwashing,” katanya.

Wakil Wali Kota Semarang Iswar Aminuddin mengapresiasi langkah IPEMI Jateng memberikan edukasi dan pendampingan kepada pelaku UMKM agar mampu naik kelas.

“Sudah waktunya UMKM kita naik kelas. Kalau sekadar omon-omon, maka UMKM akan gitu-gitu saja. Kalau mau naik kelas ya memang harus ada kegiatan edukasi dan pendampingan seperti ini,” ujarnya.

Iswar berharap keberhasilan UMKM Jawa Tengah dan Kota Semarang menembus pasar Eropa dapat mendorong pertumbuhan ekonomi kerakyatan sekaligus memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat di sekitar pelaku usaha.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *