Arthur Rimbaud
Penyair Prancis, Arthur Rimbaud.(Dok. lesvoiddelapoesie)

Jejak Arthur Rimbaud, Penyair Prancis yang Pernah Singgah di Semarang pada 1876

SEMARANG[BahteraJateng] – Nama penyair Prancis Arthur Rimbaud tidak hanya tercatat dalam sejarah sastra dunia, tetapi juga memiliki jejak perjalanan di Jawa, termasuk Kota Semarang. Pada 1876, penyair yang dikenal melalui karya-karya seperti Le Dormeur du Val dan Ma Bohème itu datang ke Hindia Belanda sebagai serdadu Koninklijk Nederlandsch-Indisch Leger (KNIL).

Perjalanan Rimbaud ke Jawa bermula ketika ia mendaftarkan diri sebagai tentara kolonial Belanda di Harderwijk, Belanda, pada 1876. Ia menandatangani kontrak selama enam tahun dan memperoleh bonus sekitar 300 gulden. Sejumlah sumber biografi menyebut keputusan tersebut lebih berkaitan dengan keinginannya untuk melakukan perjalanan jauh daripada membangun karier militer.


Rimbaud kemudian berlayar menuju Jawa menggunakan kapal Prins van Oranje. Setelah menempuh perjalanan selama beberapa pekan, ia tiba di Batavia, yang kini dikenal sebagai Jakarta, sekitar akhir Juli 1876.

Dari Batavia, perjalanan Rimbaud berlanjut menuju Semarang. Pada akhir Juli 1876, ia bersama pasukan yang akan ditempatkan di Jawa Tengah diberangkatkan menggunakan kapal Minister Fransen van de Putte. Semarang menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan singkatnya di Hindia Belanda sebelum melanjutkan perjalanan ke kawasan pedalaman.


Dari Semarang, Rimbaud dan pasukannya melanjutkan perjalanan menuju wilayah Salatiga dengan kereta api. Rute tersebut melewati Kedungjati hingga Tuntang. Dari Tuntang, rombongan kemudian meneruskan perjalanan menuju kawasan Salatiga dan Ambarawa.

Jejak perjalanan tersebut menjadi menarik karena Rimbaud datang ke Jawa ketika jaringan transportasi kereta api tengah berkembang sebagai bagian dari infrastruktur kolonial. Jalur kereta memungkinkan mobilitas dari kawasan pesisir Semarang menuju wilayah pedalaman Jawa Tengah.

Setibanya di Salatiga, Rimbaud menjalani kehidupan sebagai serdadu. Ia tercatat berada di kota tersebut pada 2 hingga 15 Agustus 1876. Sebuah plakat di Rumah Dinas Wali Kota Salatiga hingga kini menandai keberadaan penyair tersebut di kota itu.

Namun, kehidupan militer ternyata tidak berlangsung lama. Pada 15 Agustus 1876, Rimbaud melakukan desersi dan meninggalkan kesatuannya. Pada 30 Agustus, ia secara resmi dinyatakan hilang dari kesatuan militer.

Setelah desersi, bagian perjalanan Rimbaud di Jawa menjadi salah satu episode yang paling minim dokumentasi. Sejumlah catatan dan kajian biografi menyebut ia kemungkinan kembali menuju Semarang. Jarak Salatiga-Semarang yang sekitar 48 kilometer disebut ditempuh dengan berjalan kaki. Namun, detail perjalanan tersebut tidak tercatat secara pasti.

Semarang kemudian kembali muncul dalam kisah pelariannya. Rimbaud diketahui berhasil menaiki kapal dagang Wandering Chief, sebuah kapal berbendera Inggris yang berangkat dari Semarang. Dalam sejumlah biografi, ia disebut menggunakan identitas lain ketika bekerja sebagai awak kapal. Namun, identitas tersebut masih menjadi bagian yang diperdebatkan dalam kajian mengenai perjalanan Rimbaud.

Kapal tersebut membawa Rimbaud meninggalkan Jawa menuju Eropa. Setelah singgah di Queenstown, Irlandia, dan Liverpool, ia akhirnya kembali ke Prancis pada penghujung 1876.

Kisah Rimbaud di Semarang dengan demikian hanya berlangsung singkat. Namun, perjalanan tersebut menempatkan kota ini dalam salah satu episode unik kehidupan penyair besar Prancis itu: dari pelabuhan Semarang, perjalanan seorang penyair muda yang memilih menjadi serdadu kolonial berujung pada pelarian dan kepulangannya ke Eropa.

Jejak tersebut sekaligus memperlihatkan Semarang pada abad ke-19 sebagai salah satu simpul penting perjalanan manusia, perdagangan dan transportasi yang menghubungkan Jawa dengan dunia internasional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *