Kepergian Soeparno S. Adhy Kehilangan Besar Bagi Dunia Sastra dan Jurnalistik
SEMARANG[BahteraJateng] – Kepergian Soeparno S. Adhy, seorang sastrawan dan wartawan berusia 75 tahun pada hari Jumat, 23 Agustus 2024, merupakan kehilangan besar bagi dunia sastra dan jurnalistik Indonesia.
Sosok yang dikenal sebagai pendiri komunitas sastra *Persada Studi Klub Yogyakarta* ini, telah meninggalkan jejak yang mendalam dalam dunia seni dan tulisan. Komunitas yang didirikannya pada 5 Maret 1968 bersama Umbu Landu Paranggi, Iman Budhi Santosa, dan tokoh lainnya, menjadi salah satu pijakan penting bagi perkembangan sastra di Yogyakarta dan Indonesia.
Sebagai seorang wartawan senior, Soeparno S. Adhy juga meninggalkan warisan yang tak kalah penting. Ia tercatat sebagai wartawan *Kedaulatan Rakyat*, sebuah surat kabar terkenal di Yogyakarta, dengan nomor anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) 13.00.1977.81. Hingga akhir hayatnya pada Jumat, 23 Agustus 2024, di Rumah Sakit Wirosaban, Yogyakarta, Soeparno tetap aktif menulis dan meliput berita.
Ketua Umum Perkumpulan Penulis Indonesia ‘Satupena’ Jawa Tengah, Gunoto Saparie, mengenang Soeparno sebagai sosok yang produktif dan penuh semangat. Selain menulis puisi, Soeparno juga menerbitkan beberapa buku biografi. “Salah satu karyanya yang mendapat banyak pujian adalah buku *Mengkritisi 6 Presiden RI*, yang diluncurkan pada acara di DPRD Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Mei 2024,” ujar Gunoto.
Soeparno S. Adhy juga dikenal sebagai seorang aktivis Muhammadiyah yang memandang seni sebagai sarana dakwah. “Ia pernah menjadi pengurus Majelis Perpustakaan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Yogyakarta dan berpendapat bahwa meskipun ada anggota Muhammadiyah yang kurang terbuka terhadap seni, organisasi ini tetap memberikan perhatian pada seni,” tuturnya.
“Sebagai penyair religius, karya-karya Soeparno mencerminkan kedalaman spiritualitasnya. Buku *Puisi-Puisi Tanah Suci* yang ditulisnya, menggambarkan pengalaman spiritualnya saat melaksanakan ibadah haji. Puisi-puisinya dianggap mampu mengekspresikan bobot religiusitas dengan intensitas yang mendalam,” imbuhnya.
Gunoto Saparie, yang mengenal Soeparno sejak 1975, juga mengingat kenangan mereka bersama, baik dalam acara-acara sastra maupun kegiatan Ikatan Penulis Keluarga Berencana (IPKB). Meskipun berbeda pandangan dalam beberapa hal, persahabatan mereka tetap erat hingga akhir hayat Soeparno.
Kepergian Soeparno S. Adhy meninggalkan duka mendalam bagi dunia sastra dan jurnalistik Indonesia. Karya-karyanya akan terus dikenang sebagai bagian penting dari perjalanan sastra dan jurnalisme tanah air.(sun)

