Kisah Imah, Petani Cabai Jawa di Blora Beri Manfaat Pada Warga Sekitar
BLORA[BahteraJateng] – Berawal dari harapan terdalamnya untuk bisa memberikan manfaat pada warga sekitar rumahnya, Halimatus Sa’diyah atau akrab dipanggil Imah, membanting stir dari usaha perdagangan lewat daring menjadi petani cabai jawa (Piper retrofractum Vahl).
Hal tersebut disampaikan Imah di kebunnya Dusun Pulo, Desa Mojowetan, Kecamatan Banjarejo, Kabupaten Blora pada Rabu (4/2).
“Saya sudah terbiasa bisnis, tapi bisnis yang saya jalani selama sebelas tahun, hanya mendapatkan keuntungan finansial saya saja, tanpa bisa memberi manfaat langsung pada warga sekitar,” kata Imah pada BahteraJateng.
Imah menyampaikan bahwa bertani cabai jawa ini datang tanpa disengaja karena sebelumnya tidak pernah menggeluti pertanian.
“Keinginan kuat untuk memberi manfaat bagi sesama itu, akhirnya saya dipertemukan kembali dengan saudara yang tinggal di Kota Jember. Kebetulan profesinya sebagai pengepul cabai jawa di desanya, dan dari sana akhirnya saya mencari tahu segalanya terkait cabai Jawa dan bertekad bertani cabai jawa,” ungkap Imah.
Imah menjelaskan bahwa budidaya cabai jawa atau masyarakat luas mengenalnya sebagai cabai jamu ini sangat prospektif, karena termasuk lima jenis rempah yang dicari pembeli dari luar negeri dan mampu tumbuh hingga puluhan tahun jika dirawat dengan baik.
Imah juga memaparkan cara memilih tiang pancang untuk merambatnya tanaman cabai Jawa.
“Kalau kondisi ada sumber air, menggunakan tiang pancang dari beton cor semen, tapi sumber air tidak ada, gunakan tanaman hidup. Untuk harga jual cabai Jawa berkisar antara Rp. 80.000,- sampai dengan Rp. 100.000,- per kilogram kering. Perbandingan basah dan kering 1 banding 3,” ujar Imah.
Ditempat yang sama, Pak Ali salahsatu tenaga kerjanya menjelaskan perbedaan pertumbuhan tanaman dengan masing-masing tiang pancangnya.
“Kalau pakai beton cor, tanaman tumbuh dengan baik dan cepat membentuk cabang. Tapi kelemahannya pada musim kemarau, tanaman mudah kering. Jadi butuh penyiraman yang cukup. Kalau memakai tiang pancang hidup, lebih dingin (pada akar nafasnya, red.), tapi pertumbuhannya sedikit berkurang,” pungkas Pak Ali.(day)

