Pencari Kulit Kayu Jati
Parso (65), warga Dukuh Balongan, Jiken, salahsatu pencari kulit kayu Jati atau gelam di kawasan hutan Jati di Kabupaten Blora.(Foto. BahteraJateng/PI)
|

Kisah Pencari Kulit Kayu Jati, Mata Pencaharian di Musim Kemarau

BLORA[BahteraJateng] – Pagi baru saja menghangat di kawasan hutan jati Blora. Di sela batang-batang jati yang menjulang, Parso (65), seorang pencari kulit kayu jati, warga Dukuh Balongan, Desa Jiken, Kecamatan Jiken, tampak menatap sebatang pohon yang akan ditebang. Ia fokus pada bagian kulit kayu jati terbaik yang menjadi mata pencahariannya ketika musim kemarau tiba.

Di usianya yang tak lagi muda, lelaki yang akrab disapa Pak So itu masih menggantungkan sebagian penghasilannya dari lembaran kulit kayu jati yang oleh warga setempat disebut gelam. Musim kemarau menjadi penanda dimulainya pekerjaan yang telah digelutinya selama puluhan tahun.

Saat hujan turun, Pak So adalah petani lahan tadah hujan sekaligus peternak. Namun ketika tanah mulai mengering dan sawah tak lagi bisa ditanami, ia bersama sejumlah warga memilih masuk ke hutan untuk mencari gelam.

ā€œDulu sebagian besar orang jadi pencari gelam kalau kemarau tiba. Sekarang cari gelam kalau ada pesanan dari luar kota. Ketigo ngene iki arep kerjo opo leh? (Musim kemarau begini mau kerja apa?),ā€ tuturnya kepada BahteraJateng sambil tersenyum, Minggu (5/7).

Mencari gelam bukan pekerjaan yang bisa dilakukan sembarang orang. Dibutuhkan pengalaman untuk memilih kulit jati yang berkualitas, yakni pada batang yang lurus dan bebas mata kayu. Tak jarang Pak So harus memanjat hingga lima meter agar mendapatkan selembar gelam berukuran sekitar dua meter dengan lebar 30 sentimeter.

Risikonya tak kecil. Batang pohon yang licin dan ketinggian menjadi teman sehari-hari. Namun semua itu telah menjadi bagian dari rutinitas yang dijalani sejak muda.

Dalam sehari, Pak So mampu mengumpulkan sekitar 12 lembar gelam. Setiap lembar dijual kepada pengepul seharga Rp9.000. Hasilnya memang tidak besar, sekitar Rp100 ribu sehari, tetapi cukup untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga.

ā€œKalau dulu waktu masih muda, bisa sampai 20 lembar sehari,ā€ kenangnya.

Bagi masyarakat Blora, gelam bukan sekadar kulit kayu. Material alami ini pernah menjadi bagian penting kehidupan warga sebagai pengganti papan jati untuk dinding rumah. Ketahanannya terhadap cuaca membuatnya tetap diminati hingga sekarang.

Kini, fungsi gelam berubah mengikuti zaman. Jika dahulu menjadi kebutuhan rumah tangga, sekarang lembaran kulit jati itu justru banyak diburu sebagai elemen dekorasi bernuansa tradisional. Kafe, restoran, hingga penginapan di berbagai daerah memanfaatkan tekstur alaminya untuk menghadirkan kesan hangat dan alami.

Yatmo, warga setempat, mengatakan gelam memiliki daya tahan yang luar biasa.

ā€œSangat awet, bisa sampai 10 tahun. Sekarang banyak dipakai untuk hiasan dinding kafe-kafe bernuansa tradisional di kota wisata. Biasanya pesanannya dari Bali,ā€ ujarnya.

Di balik ramainya tren dekorasi alami, ada tangan-tangan para pencari gelam seperti Pak So yang tetap setia memanjat batang jati di tengah teriknya kemarau. Bagi mereka, setiap lembar kulit kayu bukan hanya bahan bangunan atau penghias dinding, melainkan harapan yang dibawa pulang untuk menghidupi keluarga.

Musim kemarau mungkin membuat sawah mengering. Namun bagi Pak So, kemarau justru membuka jalan rezeki dari lembaran-lembaran gelam yang selama puluhan tahun menjadi saksi ketekunan dan semangat bertahan hidup masyarakat di tepian hutan jati Blora.(day)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *