Komisi C : Bank Jateng Cabang Purbalingga Perlu Kreativitas & Inovasi untuk Tingkatkan Performa
PURBALINGGA[BahteraJateng] – Komisi C DPRD Provinsi Jateng terus mendorong kinerja kantor-kantor cabang Bank Jateng di daerah untuk mengoptimalkan kontribusi deviden maupun peningkatan pendapatan asli daerah (PAD).
Ketua Komisi C DPRD Jateng, Bambang Haryanto Bachrudin yang biasa disapa BHB mengatakan, pentingnya strategi setiap cabang Bank Jateng untuk mengoptimalisasikan efisiensi sebagai pendorong potensi PAD.

“Sampai saat ini, Bank Jateng masih menjadi satu-satunya BUMD yang kontribusinya meruapakan terbesar bagi PAD Jateng. Sehingga perlu dorongan untuk menigkatkan performanya,” katanya, saat berdiskusi dengan jajaran Bank Jateng Purbalingga, seperti dilansir laman dprd.jatengprov.go.id, Senin (3/8).
BHB menambahkan, Komisi C memberikan apresiasi kepada Bank Jateng Purbalingga terkait dengan effort yang sudah sangat luar biasa dalam rangka mendongkrak performa dan kinerja keuangan.

“Namun, masih perlu strategi lain supaya lebih tumbuh positif dan berkelanjutan. Yakni kreativitas dan inovasi untuk penghimpunan dana agar supaya diperhatikan lagi sehingga kinerja dan performa jadi bisa lebih bagus,” tegas Politikus PDI Perjuangan itu.
Sudiono, Kepala Devisi Perencanaan Strategis Bank Jateng, mengungkapkan hadirnya Komisi C merupakan tambahan energi dan penyemangat karena adanya perhatian dan dorongan bagi Bank Jateng.
“Sebelumnya (sampai Juni), laba sebanyak Rp 21 miliar bertengger di posisi 41. Namun, dengan adanya komitmen (service excellent) untuk peningkatan pendapatan asli daerah, akhir Juli Bank Jateng cabang Purbalingga mencapai laba Rp 30 miliar dan naik peringkat ke posisi 11. Karena penentuan peringkat berdasarkan performa laba perusahaan,” tegasnya.
Sementara, Pimpinan Cabang Bank Jateng Purbalingga Aji Dewanto menjelaskan kinerja selama 2026, yang labanya tumbuh 14,39 persen (YoY) atau melampaui target hingga 117,13 persen. ROA mencapai 5,97 persen, jauh di atas target 2,75 persen. NIM meningkat menjadi 7,06 persen. BOPO turun menjadi 47,15 persen, menunjukkan efisiensi yang sangat baik.
Kemudian NPL tetap rendah di 1,716 persen, masih dalam kategori sehat, sedang untuk pinjaman Personal loan (rumah tangga) masih menjadi penyalur kredit terbanyak dengan kontribusi 79,89 persen (Rp 982.29 miliar).
“Namun keberhasilan tersebut lebih banyak ditopang oleh efisiensi biaya, bukan karena ekspansi bisnis yang kuat,” simpulnya. (sun)

