Londo Ireng New Version
Oleh: Agus Widyanto
Istilah Londo Ireng mendadak mencuat lagi. Tak perlu dikulik lagi siapa yang menyebutnya baru-baru ini. Semua orang sudah tahu. Yang mungkin penting untuk direnungkan, apakah sebutan itu masih relevan dipakai di era kini? Apa sosoknya masih ada?

Kata Londo adalah kosa kata Jawa untuk menyebut Belanda. Konon kata “Londo” bermula dari sebutan Holanda yang dipakai orang Portugis untuk menyebut Belanda. Dalam pengucapannya, sekali lagi konon, orang Portugis yang datang lebih dulu ke Bumi Nusantara, terdengar di telinga dengan “A Holanda” yang diucapkan dengan bunyi sengau sehingga di telinga masyarakat Jawa sulit ditirukan. Maka lahirnya sebutan “Walanda”, yang disingkat dengan “Landa” (ejaan yang benar) dan sekarang lebih mudah digantikan dengan “O” menjadi “Londo”.
Lantas tambahan Ireng atau hitam dipakai oleh oleh orang-orang berkulit hitam dan sawo matang yang menjadi kaki tangan Kolonialis Belanda memerangi dan menekan masyarakat Nusantara. Tidak peduli mereka dari Afrika, India dan sekitarnya, atau bahkan warga masyarakat Nusantara, pokoknya yang menjadi kaki tangan Belanda dicap sebagai “Londo Ireng”.

Dalam perkembangannya, tidak hanya para kaki tangan atau antek kolonialis yang kulitnya “Ireng”, mereka yang bergaya atau berlagak seperti orang Eropa pun disebut “Londo Ireng”. Perkembang lainnya, orang Jawa menyebut semua orang Eropa, sebagai “Londo”. Tidak aneh kalau orang dari Amerika Serikat, Jerman, Swedia, Belgia, Australia dan serumpunnya disebut “Londo” dengan tambahan kata asal negaranya. Ada Londo Amerika, ada Londo Inggris, ada Londo Jerman, ada Londo Australia, bahkan tidak aneh kalau ada sebutan Londo Spanyol.
Lantas, apakah mereka masih ada? Dan relevankah sebutan itu dipakai?
Tergantung, bukan pada cantelan. Tapi tergantung niat dan pemaknaannya. Kalau niat dan pemaknaannya ditujukan kepada orang yang menjadi “antek asing”, bisa saja masih ada, meski samar-samar. Tapi sebutan itu menjadi tidak relevan kalau dipakai untuk menyebut orang Indonesia yang bekerja di lembaga-lembaga asing, khususnya dari negara-negara Eropa dan Australia. Kan banyak orang kita yang bekerja di multinational corporation, bahkan ada pula yang bekerja di kedutaan asing. Sehingga tidak pas kalau mereka disebut Londo Ireng.
Kalau dari aspek hakekat pemaknaannya, Londo Ireng lebih pas dipakai untuk siapapun yang menekan, memeras, berlaku sewenang-wenang seperti perilaku penjajah; terhadap bangsa Indonesia. Jadi, pemakaiannya lebih cocok menyebut “Londo Ireng” untuk orang-orang yang perilakunya tidak memuliakan, tidak berpihak, pada kepentingan warga bangsa yang sudah merdeka sejak 17 Agustus 1945.
Sepertinya, sebutan Londo Ireng versi baru atau new version ini bisa distempelkan pada oknum warga bangsa yang berperilaku mengedepankan kepentingan sendiri, memperkaya diri sendiri, membuat aturan yang merugikan orang banyak dan menguntungkan segelintir orang; sehingga kekayaan negara yang seharusnya bisa mensejahterakan masyarakat hanya mengalir ke segelintir orang. Mereka yang mendapatkan hak-hak istimewa untuk menguras bumi dan kekayaan alam yang terkandung di Bumi Nusantara, juga layak diberi lebel “Londo Ireng” dalam konteks hakekat dan maknanya.
Penjajahan hari ini tidak selalu hadir dalam bentuk militer. Ia juga hadir melalui ekonomi, budaya, media, dan cara berpikir. Hakikat penjajahan adalah bentuk penguasaan, penindasan, dan pengeksploitasian oleh satu pihak terhadap pihak lain secara tidak adil, yang merampas kemerdekaan serta hak asasi manusia. Karenanya, untuk menuju pembebasan dasarnya adalah kesadaran untuk mengenali diri, memahami realitas, dan menentukan keberpihakan. Karenanya, warga sesama bangsa yang membuang kesadaran dimaksud, pantas disebut Londo Ireng juga.
Apa yang dinyatakan Presiden pertama kita, Bung Karno, rasanya relevan untuk direnungkan lagi. “Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.” Berjuang melawan “Londo Ireng New version.
(Agus Widyanto adalah wartawan senior, peminat kebudayaan dan falsafah Jawa)

