Mufid Rahmat
Mufid Rahmat.(Dok pribadi)

Mencari Tukang Minyak Wangi Bertemu Tukang Besi

Oleh: Mufid Rahmat

Kisah tentang penjual minyak wangi dan tukang besi dalam hadis Nabi Muhammad SAW bukan sekadar dongeng moral yang layak dikenang di mimbar pengajian. Ia adalah cermin sosial yang terus relevan, bahkan semakin terasa maknanya di tengah kehidupan modern yang serba cepat, pragmatis, dan penuh ilusi kesalehan. Pesan utamanya sederhana tetapi mendalam: lingkungan pergaulan menentukan arah hidup seseorang.

Dalam tradisi masyarakat Nusantara, pesan itu diwariskan secara bersahaja. Para emak-emak di kampung-kampung, pesantren, dan kawasan Kauman menimang anak-anaknya dengan doa dan tembang tombo ati: kumpulono wong kang sholeh. Tidak ada definisi akademik tentang kesalehan. Yang penting anak tumbuh dekat dengan orang-orang baik, agar tertular akhlaknya dan selamat hidupnya.

Namun zaman berubah, dan bersama itu makna “orang saleh” ikut mengalami pergeseran. Kesalehan hari ini sering direduksi menjadi simbol lahiriah: pakaian religius, gelar akademik atau keagamaan, status sosial, jabatan publik, bahkan popularitas di ruang digital. Siapa yang tampak religius dan berpengaruh, dengan mudah diasumsikan sebagai penjual minyak wangi—sumber berkah dan kebaikan.

Masalahnya, simbol tidak selalu sejalan dengan substansi. Banyak orang tampil wangi di luar, tetapi menyimpan bara di dalam. Kesalehan menjadi kosmetik sosial, bukan laku hidup. Dalam situasi seperti ini, memilih teman tidak lagi sesederhana mendekati yang tampak baik dan menjauhi yang tampak buruk. Garis pemisah antara minyak wangi dan tukang besi menjadi kabur.

Pertemanan sendiri adalah keniscayaan. Manusia adalah makhluk sosial yang tidak mungkin hidup tanpa relasi. Lingkungan atau milieu membentuk cara berpikir, bersikap, bahkan menentukan batas kompromi moral seseorang. John Locke dengan teori tabula rasa, maupun ajaran agama, sama-sama menegaskan bahwa manusia sangat dipengaruhi oleh lingkungannya.

Dalam praktik sosial, pertemanan hadir dalam berbagai rupa. Ada pertemanan sementara dan fungsional, ada pertemanan lama yang dibangun sejak sekolah atau sekampung, ada pula pertemanan profesional dan politis yang sarat kepentingan. Yang paling berbahaya adalah pertemanan anomali: di depan tampak akrab, di belakang saling menjatuhkan, atau lebih jauh, saling menjerumuskan.

Fenomena perantau sukses memberi gambaran konkret tentang kompleksitas ini. Kota-kota besar menjadi panggung bagi anak-anak desa yang mengadu nasib. Banyak yang berhasil menjadi pengusaha besar, pejabat, politisi, bahkan pemimpin nasional. Kesuksesan itu sering dirayakan sebagai buah kerja keras, doa orang tua, dan pergaulan yang “tepat”.

Namun tidak sedikit pula yang akhirnya terjerembab dalam skandal, terutama korupsi. Ironisnya, kejatuhan itu sering melibatkan jejaring pertemanan dan lingkungan yang sebelumnya dianggap aman, religius, dan penuh kepercayaan. Tukang minyak wangi yang diharapkan memberi keharuman justru berubah menjadi tukang besi yang membakar dan meninggalkan jelaga.

Dalam kasus-kasus korupsi, jarang ada pelaku tunggal. Ada relasi, ada solidaritas semu, ada balas budi, dan ada kompromi nilai. Demi menjaga pertemanan, seseorang menutup mata terhadap penyimpangan kecil yang lama-lama membesar. Demi loyalitas kelompok, integritas pribadi dikorbankan. Pada titik tertentu, kejahatan menjadi kolektif dan terasa “normal”.

Yang paling menderita dari semua itu sering kali bukan hanya pelaku, tetapi keluarga besar yang ditinggalkan. Bayangkan seorang ibu di kampung yang seumur hidup menanamkan nilai kebaikan, tiba-tiba harus menghadapi kenyataan pahit: anak yang dibanggakan menjadi tersangka. Dari singgasana kebanggaan, ia terhempas ke selokan stigma sosial. Tangisnya bukan sekadar tangis pribadi, tetapi simbol runtuhnya harapan dan doa bertahun-tahun.

Di sinilah fatalisme kerap mengambil alih. Semua dianggap takdir. Padahal, di balik setiap tragedi moral, ada rangkaian pilihan sadar—termasuk pilihan berteman dan bersekutu. Agama tidak mengajarkan kepasrahan buta. Ia justru menuntut kehati-hatian, kejernihan nurani, dan keberanian menolak keburukan, meski datang dari orang dekat.

Berteman yang baik bukan berarti sehidup semati tanpa batas. Apalagi sampai seterali besi. Pertemanan yang sehat adalah yang saling menjaga kehormatan, saling menasihati dalam kebaikan, dan berani mengingatkan ketika mulai menyimpang. Ketika pertemanan menuntut pengorbanan nilai, karakter, bahkan iman, di situlah seseorang harus berani mengambil jarak.

Di era hedonisme dan pragmatisme, pilihan moral sering terasa mahal. Menolak ajakan teman bisa berarti kehilangan akses, kesempatan, bahkan kenyamanan. Namun harga yang harus dibayar ketika prinsip dikorbankan jauh lebih mahal: kehormatan diri, nama baik keluarga, dan masa depan generasi berikutnya.

Kisah tukang minyak wangi dan tukang besi mengingatkan kita bahwa wangi tidak selalu abadi, dan besi bisa menyamar dalam kemasan religius. Karena itu, kepekaan moral menjadi kebutuhan mendesak. Ilmu, laku, dan doa harus berjalan bersama. Doa tanpa sikap kritis bisa berubah menjadi pembenaran, sementara sikap kritis tanpa spiritualitas bisa kehilangan arah.

Pada akhirnya, pesan para ibu dengan tombo ati tetap relevan: carilah lingkungan yang baik. Namun di zaman ini, “baik” harus dibaca lebih dalam—bukan dari tampilan, tetapi dari konsistensi laku. Agar para ibu tetap bisa menimang anak-anaknya dengan doa penuh harap, bukan dengan nyanyian sendu yang dibasahi air mata penyesalan.

(Mufid Rahmat adalah Mantan Anggota DPR RI)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *