Menyibak Tradisi Sedekah Bumi Dusun Krajan, Tim KKN MIT-22 UIN Walisongo Kenali Kearifan Lokal

SEMARANG[BahteraJateng] – Warga Dusun Krajan, Desa Kandangan, Kecamatan Bawen, Kabupaten Semarang, menggelar tradisi Merti Dusun atau Sedekah Bumi pada Minggu (16/8/2026). Kegiatan tersebut menjadi salah satu bentuk ungkapan syukur masyarakat sekaligus upaya menjaga kearifan lokal yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Rangkaian kegiatan diawali dengan pembukaan, kemudian dilanjutkan kirab yang mengelilingi wilayah Dusun Krajan. Setelah kirab selesai, masyarakat kembali menuju panggung untuk mengikuti acara pembukaan dan prosesi adat Sedekah Bumi.

Prosesi adat dilanjutkan dengan penyerahan pusaka dan doa bersama sebagai bagian dari rangkaian Merti Dusun. Setelah seluruh prosesi selesai, kegiatan ditutup dengan sesi foto bersama. Pada malam harinya, masyarakat melanjutkan kegiatan dengan pagelaran wayang yang berlangsung hingga menjelang pagi.

Tim KKN MIT-22 UIN Walisongo Semarang Posko 26 yang sedang melaksanakan pengabdian di Desa Kandangan turut hadir dan menyaksikan rangkaian tradisi tersebut. Kehadiran mahasiswa menjadi kesempatan untuk mengenal lebih dekat tradisi dan nilai-nilai kearifan lokal yang masih dijaga oleh masyarakat Dusun Krajan.

Kepala Desa Kandangan, Paryanto, menjelaskan bahwa Merti Dusun merupakan salah satu rangkaian kegiatan adat yang dilaksanakan oleh masyarakat Desa Kandangan sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT atas berbagai nikmat yang diberikan.

“Jadi Merti Dusun ini adalah salah satu rangkaian kegiatan adat masyarakat Desa Kandangan, yang merupakan salah satu wujud syukur masyarakat kepada Allah SWT yang telah memberikan berbagai macam kenikmatan kepada masyarakat berupa kesehatan, rezeki, hasil bumi dan sebagainya,” ujar Paryanto.

Menurutnya, Merti Dusun dilaksanakan secara bergantian di sejumlah dusun di Desa Kandangan dengan pelaksanaan setiap dua tahun sekali. Setiap dusun melaksanakan kegiatan secara mandiri dengan dukungan dan pembiayaan dari masyarakat setempat.

Paryanto menyebut Merti Dusun memiliki makna sebagai bentuk rasa syukur sekaligus pengingat bagi masyarakat untuk menjaga lingkungan tempat mereka tinggal.

“Ini adalah wujud syukur masyarakat kepada Tuhan Yang Maha Esa bahwa kita itu menempati bumi yang telah diciptakan Yang Maha Kuasa. Di sini wajib disyukuri, wajib diselamati dan wajib dirawat. Ini salah satu kearifan lokal,” tuturnya.

Ia juga menilai rangkaian kegiatan, khususnya kirab, menjadi bentuk nyata keguyuban masyarakat Dusun Krajan. Menurutnya, tradisi tersebut tidak hanya berkaitan dengan adat, tetapi juga mempererat hubungan antarwarga.

“Sangat bagus, karena ini salah satu wujud keguyuban masyarakat desa yang selama ini diuri-uri atau dilestarikan oleh masyarakat kami,” kata Paryanto.

Lebih lanjut, ia berharap tradisi Merti Dusun dapat terus dipertahankan sekaligus menjadi sarana untuk menjaga kerukunan masyarakat. “Harapan kami, masyarakat tetap guyub rukun, selalu bersatu, jangan sampai ada hal-hal yang tidak diinginkan. Jadi salah satu masyarakat akur itu di situ masyarakat guyub, rukun, tertib,” ujarnya.

Bagi Tim KKN MIT-22 UIN Walisongo Semarang Posko 26, kehadiran dalam kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya mengenal kehidupan sosial dan budaya masyarakat Desa Kandangan. Tradisi Merti Dusun menunjukkan bahwa nilai syukur, kepedulian terhadap lingkungan, serta kebersamaan masih menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat.

Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa KKN dapat menyaksikan secara langsung bagaimana masyarakat mempertahankan tradisi lokal sekaligus membangun kebersamaan antarsesama warga. Tradisi Merti Dusun diharapkan dapat terus dilestarikan sehingga nilai-nilai kearifan lokal tetap dikenal dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Sumber : Lubab Jamaludin Arrumi (KKN UIN Walisongo)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *