Roadshow bunda literasi Kota Semarang
Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng dalam Roadshow Bunda Literasi.(Dok. Humas Pemkot)
|

Satu Tahun Kepemimpinan Agustina–Iswar, Akses Pendidikan Terbuka Lebar dan Ijazah Tertahan Kembali ke Pemiliknya

SEMARANG[BahteraJateng] – Satu tahun kepemimpinan Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti bersama Wakil Wali Kota Iswar Aminuddin (Agustina-Iswar), sektor pendidikan di Ibu Kota Jawa Tengah menunjukkan capaian signifikan.

Melalui program unggulan Semarang Cerdas, pemerintah kota memperluas akses pendidikan, melunasi tunggakan SPP siswa kurang mampu, hingga mengembalikan ratusan ijazah yang sempat tertahan.


Agustina menegaskan, pendidikan merupakan prioritas utama dalam lima pilar pembangunan: Semarang Bersih, Sehat, Cerdas, Makmur, dan Tangguh.

“Semua anak Semarang harus punya kesempatan yang sama untuk bersekolah dan berprestasi,” ujar Agustina beberapa waktu lalu.


Data 2025 mencatat Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kota Semarang mencapai 85,80—tertinggi di Jawa Tengah—dengan rata-rata lama sekolah 11,11 tahun. Tingkat kepuasan publik terhadap kinerja kepemimpinan Agustina–Iswar mencapai 83,6 persen berdasarkan Survei Litbang Kompas.

Sepanjang 2025, Pemkot Semarang melunasi tunggakan SPP 122 siswa dari 15 sekolah senilai Rp71,39 juta. Di sisi lain, 374 ijazah dari 36 sekolah berhasil diserahkan kembali kepada pemiliknya. Meski masih terdapat 10.335 ijazah tertahan, pemerintah berkomitmen menyelesaikannya secara bertahap.

Program hibah P-BOSP menjangkau 129 sekolah swasta dengan total anggaran Rp25,79 miliar. Bantuan juga diberikan kepada 1.482 guru swasta belum tersertifikasi. Angka putus sekolah pun ditekan hingga 0 persen untuk tingkat SD dan 0,01 persen untuk SMP.

Pemkot turut menggelontorkan beasiswa bagi ribuan siswa dan mahasiswa kurang mampu, membangun 67 ruang kelas baru, serta memperbaiki ratusan ruang kelas lainnya. Indeks literasi mencapai 82,16 persen dan numerasi 77,74 persen.

Memasuki 2026, pemerintah menargetkan perluasan sekolah swasta gratis menjadi 135 sekolah serta penambahan kuota beasiswa. “Tidak boleh ada anak Semarang yang berhenti sekolah karena biaya,” tegas Agustina.(sun)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *