Warga Ampel Gading Kelurahan Kalisegoro Kecamatan Gunungpati Kota Semarang memilliki tradisi unik yakni kirab air sendang. Foto Hendrati Hapsari/ Bahtera Jateng
| |

Warga Gunungpati Rawat Tradisi Apitan Jaga Lingkungan

SEMARANG [BahteraJateng]- Warga Ampel Gading Kelurahan Kalisegoro Kecamatan Gunungpati Kota Semarang memilliki tradisi unik yakni kirab air sendang.

Kirab tersebut merupakan rangkaian apitan atau sedekah bumi telah berlangsung rutin setiap tahun. Apitan adaptasi dari nama bulan Apit, bulan sebelum Bulan Besar dalam penanggalan Jawa atau bulan terlaksananya Hari Raya Iduladha.

Tradisi ini mendapat sambutan hangat dari penduduk asli maupun pendatang. Mereka antuasias mengikuti prosesi tahapan kirab air sendang. Awal kegiatan adalah warga berkumpul di sebuah titik dan terbagi menjadi empat kelompok. Setiap kelompok berjalan kaki menuju empat sendang ditentukan. Adalah Sendang Dipo, Sapi, Kelor, dan Jaro di Ampel Gading.

Setiap kelompok membawa sejumlah perangkat prosesi. Mlai payung, tombak, tumpeng, sapu lidi, hingga kendi untuk tempat air. Begitu sampai di sendang, etiap kelompok memanjatkan doa. Warga mulai mengambil air dengan memasukkan ke dalam kendi.

Lalu, setiap kelompok kembali bersama-sama menuju ke makam cikal bakal kampung, yakni Kiai dan Nyai Kabluk. Di makam ini, warga kembali memanjatkan doa sekaligus menuangkan air dari empat sendang ke dalam tempat tersendiri. Air dari empat sendang itu selanjutnya disiramkan ke makam Kiai dan Nyai Kabluk.

Pengarah acara, M Zuyyina Laili mengatakan, kegiatan ini adalah bagian untuk terus merawat budaya ada. Selain itu, acara kirab air sendang diharapkan mengingatkan pentingnya air dalam kehidupan.

“Karena itu, sudah semestinya semua bisa merawat sendang. Merawat sendang juga menjadi bagian dari menjaga lingkungan,” ungkapnya.

Warga Ampel Gading menggelar tradisi apitan ini, sejak Kamis (22/5) dengan nyekar ke makam Kiai dan Nyai Kabluk. Selanjutnya, mereka menggelar bakti sosial, dan mendatangkan hiburan grup qasidah ezzura. Acara ditutup lewat pagelaran wayang kulit dengan dalang Ki Sigit Adji Sabdo Prijono.

Sementara itu, Kasi Pemerintahan Kecamatan Gunungpati Nuniek Akhiriani berharap, kegiatan ini semakin menjaga keharmonisan masyararakat dan memperkuat kebersamaan.

“Sekaligus merawat tradisi yang sudah ada sejak dulu,” ujarnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *