PWNU Jateng Gelar Pelatihan Arsitektur Pesantren, Belajar dari Tragedi Sidoarjo
SEMARANG[BahteraJateng] – Tragedi ambruknya Masjid Pondok Pesantren Al Khoziny Buduran, Sidoarjo, Jawa Timur, yang menelan 51 korban jiwa pada 29 September 2025, menjadi perhatian serius Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah.
Menyikapi hal itu, PWNU Jateng menyiapkan program pelatihan arsitektur dan infrastruktur pesantren agar pengelola pondok lebih sadar terhadap standar konstruksi bangunan.
Ketua Panitia Hari Santri Nasional (HSN) 2025 PWNU Jateng, KH Ahmad Zaki Fuad, mengatakan pelatihan tersebut menjadi bagian dari rangkaian kegiatan HSN tahun ini.
“Ada beberapa halaqah, seminar, dan sarasehan yang digelar di sejumlah pesantren dengan tema penting, salah satunya pelatihan arsitektur dan infrastruktur pembangunan gedung pesantren,” ujar Gus Zaki, sapaan akrabnya saat kick off HSN 2025 di kantor PWNU Jateng pada Senin (13/10).
Selain pelatihan arsitektur, PWNU Jateng juga menggelar pelatihan media pesantren, modern farming, dan tour leader bagi santri.
Kick off HSN dimulai Senin malam ini dengan khataman Al-Qur’an dan Parade Tilawah oleh PW Jam’iyyatul Qurra’ wal Huffazh NU (JQHNU) Jateng.
Sementara itu, Ketua PWNU Jateng KH Abdul Ghoffar Rozin, menilai istilah audit pesantren kurang tepat karena sebagian besar bangunan pesantren dibangun secara swadaya masyarakat.
Ia lebih mendorong dilakukan asesmen disertai pendampingan teknis, bukan sekadar penilaian administratif.
“Pendampingan jauh lebih penting. Pemerintah bisa melibatkan perguruan tinggi dengan fakultas teknik atau arsitektur untuk membantu pesantren, tanpa membebani APBN,” kata Gus Rozin, sapaan akrabnya.
Menurutnya, tragedi Sidoarjo harus menjadi momentum perbaikan menyeluruh terhadap infrastruktur pesantren agar lebih aman dan berkelanjutan.

