Workshop
Presidium Mafindo Farid Zamroni Mardizansyah dan Jurnalis Senior Ardiansyah Harjunantio dalam Workshop dan Temu Rekan Media bersama Gubernur Jateng, di Bandungan, Senin (8/12).(Dok Humas Pemprov)

Hoaks Semakin Canggih: Media, Humas Pemerintah, dan Publik Harus Perkuat Literasi Digital

UNGARAN[BahteraJateng] – Ledakan hoaks berbasis kecerdasan buatan (AI) membuat batas antara informasi asli dan manipulasi digital semakin kabur.

Presidium Mafindo Jawa Tengah, Farid Zamroni Mardizansyah, menegaskan perlunya peningkatan literasi digital dan pola pikir kritis di tengah masyarakat.

Menurut Farid, hoaks kini tidak lagi berhenti pada teks provokatif, tetapi merambah foto, video, hingga audio yang dipoles teknologi AI.

“Banyak hoaks AI yang sudah sangat rapi. Metadata pun kadang tidak cukup, sehingga masyarakat harus lebih teliti,” ujarnya dalam Workshop dan Temu Rekan Media bersama Gubernur Jawa Tengah di Bandungan pada Senin (8/12).

Ia mencontohkan maraknya duplikasi akun tokoh publik seperti Tengku Zulkarnain dan SBY yang menyesatkan masyarakat dengan opini palsu. Rendahnya literasi digital membuat publik mudah terkecoh.

Sebagai solusi, Mafindo menyediakan chatbot WhatsApp untuk memverifikasi teks, foto, dan video. Namun Farid mengakui isu yang sangat baru biasanya belum memiliki cukup referensi.

“Kalau isu lama seperti ijazah Presiden Jokowi datanya sudah lengkap. Tapi kejadian baru, seperti banjir di Sukabumi hari ini, tentu terbatas,” jelasnya.

Mafindo juga mendorong penggunaan metode SIFT—Stop, Investigate, Find, Trace—agar publik terbiasa berhenti sebelum membagikan, memeriksa sumber, mencari pembanding, dan melacak konteks asli.

Dalam paparannya, Farid menunjukkan berbagai contoh hoaks viral, mulai foto banjir palsu di Paris hingga video AI tokoh publik untuk iklan judi online.

Selain itu, dari 19 pemeriksa fakta Mafindo, baru empat yang memiliki kecakapan mendeteksi manipulasi AI. Mayoritas masih mengandalkan verifikasi manual melalui rujukan media terpercaya.

Di sesi lain, jurnalis senior Ardiansyah Harjunantio menegaskan bahwa masa depan media digital bergantung pada kemampuan adaptasi dan kolaborasi, terutama bagi media kecil.

Ia menilai model portal tunggal tak lagi efektif dan mendorong konsep homeless media yang mengoptimalkan Instagram, TikTok, maupun YouTube.

Menurutnya, segmentasi superlokal menjadi peluang terbesar media kecil karena mampu membangun komunitas dan menarik iklan secara tepat sasaran.

Ia juga menyoroti pentingnya jejaring PRNM yang menghimpun lebih dari 400 media untuk meningkatkan distribusi dan otoritas domain.

“Tidak perlu bermimpi menjadi media besar. Yang penting segmennya kuat, kolaborasi berjalan, dan konten terverifikasi,” ujarnya.(sun)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *