Gunoto Saparie
Gunoto Saparie.(Dok. GS)

Menyongsong Pertemuan Penyair Nusantara XIV di Aceh

Oleh: Gunoto Saparie

Puisi barangkali memang selalu lahir dari perjalanan. Bukan sekadar perjalanan kata menuju makna, melainkan perjalanan manusia menuju manusia lain. Dari ruang sunyi menuju ruang percakapan. Dari pengalaman pribadi menuju kesadaran bersama. Dalam perjalanan itulah puisi menemukan salah satu maknanya yang paling penting: perjumpaan.

Karena itu, ketika Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) XIV akan digelar di Aceh pada 22–28 Juni 2026, forum ini sesungguhnya tidak hanya menjadi agenda kesenian biasa. Ia adalah ruang temu lintas budaya, lintas bahasa, dan lintas pengalaman kemanusiaan. Aceh akan menjadi titik perjumpaan para penyair dari berbagai daerah di Indonesia dan sejumlah negara lain untuk saling mendengar, saling memahami, dan saling merawat nurani.

Tema yang diangkat, “Puisi untuk Kemanusiaan: Dari Diksi Menjadi Aksi”, terasa relevan dengan situasi dunia hari ini. Kita hidup di tengah arus informasi yang begitu cepat, tetapi sering kehilangan kedalaman pemahaman. Kita dapat menyaksikan tragedi kemanusiaan hanya lewat layar telepon genggam, namun belum tentu mampu benar-benar merasakan penderitaan orang lain. Dalam situasi seperti itu, puisi hadir sebagai ruang empati.

Puisi memang tidak membangun jalan tol atau menaikkan angka pertumbuhan ekonomi. Tetapi tanpa empati, pembangunan hanya akan melahirkan kemajuan yang kering. Peradaban membutuhkan teknologi, tetapi juga membutuhkan kepekaan batin. Di sinilah puisi memainkan perannya: menjaga agar manusia tidak kehilangan suara nuraninya.

Karena itu, forum seperti PPN memiliki arti penting. Ia bukan hanya panggung pembacaan puisi atau peluncuran buku antologi. Ia adalah ruang percakapan kebudayaan. Dari forum semacam inilah gagasan tumbuh, jejaring budaya terbentuk, dan semangat berkesenian dipelihara.

Sejarah menunjukkan bahwa banyak gerakan kebudayaan lahir dari perjumpaan sederhana. Dari diskusi kecil, perdebatan panjang, hingga percakapan larut malam tentang masa depan manusia dan kebudayaan. Sastra berkembang bukan hanya karena bakat individu, melainkan juga karena adanya ruang bersama untuk bertukar pengalaman dan pemikiran.

Namun di balik pentingnya forum ini, ada ironi yang patut direnungkan. Banyak peserta yang hadir di Aceh harus menanggung sendiri biaya perjalanan mereka. Padahal mereka bukan peserta sembarangan. Mereka telah melalui proses seleksi dan membawa karya kreatif yang lahir dari proses panjang. Sebuah puisi tidak lahir dalam semalam. Ia tumbuh dari pengalaman hidup, pengamatan, kegelisahan, dan pergulatan batin yang mendalam.

Kenyataan bahwa banyak penyair harus menghitung kemampuan finansial demi menghadiri forum kebudayaan menunjukkan bahwa perhatian terhadap kesenian masih belum sepenuhnya serius. Negara memang kerap berbicara tentang pentingnya kebudayaan sebagai fondasi karakter bangsa. Namun dalam praktiknya, dukungan nyata terhadap pelaku kebudayaan sering kali masih terbatas.

Bandingkan dengan dunia olahraga yang memperoleh dukungan fasilitas, pelatihan, hingga pembiayaan perjalanan secara lebih memadai. Tentu tidak ada yang salah dengan perhatian terhadap olahraga. Tetapi kesenian juga memiliki kontribusi besar bagi bangsa. Para penyair mungkin tidak membawa pulang medali, tetapi mereka membantu bangsa memahami dirinya sendiri.

Bangsa Indonesia dibangun bukan hanya oleh para pejuang di medan perang, melainkan juga oleh para penulis, seniman, dan penyair yang membentuk imajinasi kolektif tentang Indonesia. Kebudayaan membuat masyarakat merasa menjadi bagian dari sebuah bangsa yang sama.

Karena itu, Pertemuan Penyair Nusantara XIV penting untuk terus dirawat. Forum ini mengingatkan bahwa manusia masih membutuhkan ruang untuk berbicara tentang harapan, luka, kemanusiaan, dan masa depan bersama. Aceh akan menjadi saksi bahwa di tengah dunia yang semakin gaduh, puisi tetap menemukan jalannya untuk menjaga kemanusiaan.

(Gunoto Saparie adalah Ketua Umum Satupena Jawa Tengah)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *