Perhutani Kebonharjo
Perhutani Kebonharjo dan PPL gelar ubinan jagung Musim Tanam (MT) II Tahun 2026 di petak 86 RPH Ketodan, BKPH Sale, Desa Besowo, Kecamatan Jatirogo, Kabupaten Tuban, Selasa (23/6).(Dok. KPH Kebonharjo)

Dukung Ketahanan Pangan, Perhutani Kebonharjo dan PPL Gelar Ubinan Jagung di Kawasan Hutan Tuban

TUBAN[BahteraJateng] – Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Kebonharjo bersama Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Kecamatan Jatirogo dan para pesanggem melaksanakan kegiatan pengambilan sampel ubinan tanaman jagung Musim Tanam (MT) II Tahun 2026 di petak 86 Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Ketodan, Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Sale, Desa Besowo, Kecamatan Jatirogo, Kabupaten Tuban pada Selasa (23/6).

Kegiatan ubinan dilakukan untuk mengukur dan mengestimasi produktivitas hasil pertanian jagung sebelum memasuki masa panen raya secara menyeluruh. Melalui metode tersebut, diperoleh data riil mengenai perkiraan hasil panen jagung per hektare.

Administratur/KKPH Kebonharjo melalui Asper/KBKPH Sale, Murtopo, mengatakan metode ubinan menjadi salah satu tolok ukur keberhasilan budidaya tanaman jagung yang dikembangkan melalui pemanfaatan lahan di bawah tegakan hutan dalam skema kerja sama agroforestry.

“Perhutani KPH Kebonharjo secara berkelanjutan mendukung penuh program ketahanan pangan yang dicanangkan pemerintah menuju Indonesia swasembada pangan melalui kerja sama agroforestry dengan masyarakat sekitar hutan dengan memanfaatkan lahan di bawah tegakan,” ujar Murtopo.

Menurutnya, sinergi antara Perhutani dan masyarakat melalui pemanfaatan lahan produktif di bawah tegakan diharapkan dapat meningkatkan hasil pertanian sekaligus memperkuat ketersediaan pangan di wilayah Kecamatan Jatirogo.

Sementara itu, petugas PPL Kecamatan Jatirogo, Daim, menjelaskan bahwa ubinan merupakan metode standar yang digunakan untuk memperkirakan potensi hasil panen secara akurat melalui pengambilan sampel di lahan.

“Area sampel diukur menggunakan bingkai ubinan berukuran 2,5 meter × 2,5 meter. Tanaman jagung di dalam bingkai dipanen, dipisahkan dari kelobotnya, kemudian ditimbang untuk mengetahui bobot basah. Hasilnya digunakan dalam rumus untuk mengestimasi produksi per hektare,” jelasnya.

Daim juga mengapresiasi langkah Perhutani yang membuka peluang pemanfaatan lahan di bawah tegakan bagi masyarakat sekitar hutan. Program tersebut diharapkan tidak hanya mendukung ketahanan pangan nasional, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat desa hutan di Desa Besowo dan sekitarnya.(day)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *