Konferensi ADF 2026
Yayasan DBM mewakili perempuan adat penyandang disabilitas Jawa Tengah dalam konferensi ASEAN Disability Forum (ADF) 2026 yang digelar di Kabupaten Toraja Utara, Sulawesi Selatan.(Dok. DBM)

DBM Wakili Perempuan Adat Disabilitas Jateng di Konferensi ADF 2026

BLORA[BahteraJateng] – Yayasan Difabel Blora Mustika (DBM) mewakili perempuan adat penyandang disabilitas Jawa Tengah dalam konferensi ASEAN Disability Forum (ADF) 2026 yang digelar di Kabupaten Toraja Utara, Sulawesi Selatan.

Konferensi bertema “Tidak Ada Keputusan Tentang Kami Tanpa Kami” itu berlangsung pada 8–14 Juni 2026 di Hotel Misiliana Toraja dan diikuti 42 perwakilan masyarakat adat dari berbagai daerah di Indonesia.

Pengurus DBM, Siti Muntarin atau akrab disapa Mbak Rin, hadir atas undangan Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia (HWDI) sebagai perwakilan perempuan adat penyandang disabilitas dari masyarakat adat Kampung Samin, Jawa Tengah.

“Saya hadir sebagai perwakilan perempuan adat penyandang disabilitas dari masyarakat adat Kampung Samin dalam konferensi ADF. Kampung Samin di Blora sudah modern, tidak seperti perempuan adat penyandang disabilitas di tempat lain yang masih mengalami diskriminasi dan belum memiliki kesetaraan,” ujar Mbak Rin, Minggu (14/6).

Menurutnya, perempuan penyandang disabilitas di sejumlah komunitas adat masih menghadapi keterbatasan dalam menyuarakan aspirasi dan memperoleh akses yang setara.

Ia menilai pendataan yang lebih rinci terhadap perempuan adat penyandang disabilitas di kawasan Kampung Samin menjadi langkah penting untuk memperluas perlindungan dan pemberdayaan.

“Perlu pendataan menyeluruh terhadap perempuan disabilitas di Kampung Samin Cepu, Pati, Rembang, dan wilayah lainnya agar mereka dapat tersentuh program, mengurangi diskriminasi, serta memperoleh pelatihan,” katanya.

Secara terpisah, Ketua Yayasan DBM, Abdul Ghofur, mengatakan konferensi ADF menjadi ruang pembelajaran, solidaritas, dan aksi kolektif bagi perempuan adat penyandang disabilitas.

Menurutnya, forum tersebut juga bertujuan memperkuat suara perempuan adat penyandang disabilitas sekaligus memperjuangkan kesetaraan, martabat, aksesibilitas, dan hak asasi manusia.

“Konferensi ini menjadi ruang untuk memastikan perempuan adat penyandang disabilitas diakui, dihormati, dan dilibatkan dalam setiap keputusan yang mempengaruhi kehidupan mereka,” ujar Ghofur.

Ia berharap hasil konferensi dapat mendorong terciptanya masa depan yang lebih inklusif bagi perempuan adat penyandang disabilitas.

“Bersama kita membangun masa depan di mana tidak ada perempuan yang tertinggal, keragaman dihargai, dan hak-hak kita sepenuhnya dilindungi serta dipenuhi,” pungkasnya.(day)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *