PMKRI Jateng-DIY
Komda II PMKRI Jateng-DIY Natael Bremana saat diskusi dengan mahasiswa asal Papua, Selasa (16/6).(Dok. Pribadi)
|

Menteri Ajak Mahasiswa ke Papua, PMKRI : Bukan Jawaban Persoalan

SEMARANG[BahteraJateng] –  Menteri Agraria dan Tata Ruang Nusron Wahid mengajak mahasiswa untuk ikut ke Papua. Ajakan itu ia lontarkan saat menghadiri forum Nusantara Young Leaders di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) UGM, Sleman Yogyakarta pada Senin (15/6), yang sempat digeruduk sejumlah mahasiswa hingga bubar. Di momen yang sama, Wakil Menteri Pertanian, Sudaryono menyatakan siap menggunakan dana pribadi untuk mendatangi lokasi dan melihat langsung persoalannya.

Sejumlah elemen mahasiswa memberikan tanggapan atas ajakan menteri tersebut. Salah satunya dari Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI). Komisaris Daerah (Komda) II PMKRI Jateng-DIY, Natael Bremana, menyebut  ajakan kepada mahasiswa untuk datang ke Papua bukan jawaban.

“Mahasiswa UGM bertanya soal konflik agraria, hak masyarakat adat, dan dampak kebijakan negara di Papua. Namun Nusron justru menjawab, siapa yang saya gusur. Padahal tidak ada yang menuduh Nusron turun langsung menggusur rakyat. Yang dipertanyakan adalah kebijakan negara, bukan pribadi Nusron,” ucapnya kepada BahteraJateng pada Jumat (19/6).

Menurut Bremana, sikap yang ditunjukkan para pejabat itu adalah pola lama komunikasi pemerintah yang terus diulang namun tak menyelesaikan persoalan.

“Ketika rakyat bertanya soal kebijakan, pemerintah menjawab dengan pembelaan diri. Ketika rakyat meminta data, pemerintah menjawab dengan narasi. Padahal yang ingin diketahui sederhana: berapa konflik agraria di Papua, berapa tanah adat yang bersengketa, dan bagaimana negara melindungi masyarakat adat?,” imbuhnya.

Baginya, apa yang terjadi di Papua hingga kini adalah soal keadilan. Jika pemerintah yakin tidak ada masalah, ia meminta pemerintah terbuka menunjukkan datanya. Bukannya menghindari pertanyaan dengan mengubah persoalan rakyat menjadi pembelaan terhadap diri sendiri.

“Mengajak mahasiswa datang ke Papua bukan jawaban. Menunjukkan pembangunan juga bukan jawaban. Jalan, bandara, dan investasi bisa dibangun, tetapi konflik lahan dan perampasan hak masyarakat adat tetap bisa terjadi pada saat yang sama,” tandasnya.

Sebelumnya Nusron Wahid sendiri mengaku terbuka dengan masukan dari para mahasiswa. Kepada para mahasiswa yang menggeruduknya, ia kemudian melontarkan ajakan untuk datang langsung ke Papua. “Kalau Anda mengatakan saya menggusur orang Papua, kapan kamu mau tak ajak ke sana lihat,” kata Nusron, Senin (15/6).

Nusron pun kembali mempertanyakan siapa orang Papua yang telah dia gusur. “Lihat yang saya gusur siapa? Justru saya menyampaikan faktanya. Yang saya gusur siapa?” ucapnya sebelum akhirnya meninggalkan lokasi acara bersama Sudaryono.(day)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *