Kasus HIV Jateng Masih Tinggi, Pengobatan dan Tes Viral Load Disebut Belum Merata
SEMARANG[BahteraJateng] – Pemantauan terapi pasien HIV di Jawa Tengah (Jateng) melalui pemeriksaan viral load masih belum berjalan optimal. Keterbatasan fasilitas serta belum meratanya akses layanan di sejumlah daerah atau kota membuat pengukuran keberhasilan pengobatan belum dapat dilakukan secara menyeluruh.
Ketua Yayasan Sehat Peduli Kasih (PEKA) Jateng, Pute Aryatama, menyebut secara kumulatif kasus HIV yang terdeteksi di Jateng mencapai 40.000. Dari jumlah tersebut, baru sekitar 24.000 pasien telah menjalani pengobatan.
“Artinya masih ada gap dari yang ditemukan (kasus HIV) dengan yang diobati,” ucap Pute saat diskusi penanganan HIV di sebuah kafe Kota Semarang pada Selasa (23/6).
Pute membeberkan kondisi setupa juga terjadi di Kota Semarang. Dari jumlah kumulatif dari 2010-2026, kasus HIV yang ditemukan sebesar 4.378 kasus, sementara yang sudah menjalani pengobatan baru 3.000 pasien.
Lebih lanjut, ada sejumlah faktor orang-orang yang enggan berobat meski telah terdeteksi HIV. Beberapa di antaranya karena mereka merasa sehat atau memiliki penyakit penyerta seperti tuberkulosis (TB) yang harus ditangani lebih dulu sebelum menjalani terapi HIV.
“Pengobatan itu menjadi salah satu kunci untuk bisa menekan penularan. Dengan dia rutin pengobatan, jumlah virus yang ada di dalam tubuhnya bisa rendah sehingga tidak akan menularkan ke siapa pun,” imbuhnya.
Pute juga menyoroti rendahnya cakupan tes viral load di Jateng sebagai alat ukur keberhasilan terapi pengobatan pasien HIV. Dari 24.000 pasien yang menjalani pengobatan, ia menyebut baru sekitar 3.000 yang telah menjalani tes tersebut.
Hal tersebut menunjukkan adanya kesenjangan pelaksanaan tes viral load dengan pasien yang menjalani pengobatan HIV. Kondisi ini terjadi karena tidak semua fasilitas kesehatan di
daerah Jateng menyediakan layanan pemeriksaan tersebut.
“Kalau untuk keberhasilannya sendiri, dari yang sudah diobati tingkat supresi virusnya sudah 90 persen. Jadi tinggal 10 persen virusnya yang masih terdeteksi. Dari sekitar 3.000 yang sudah dites viral load itu, 90 persen sudah tidak bisa menularkan ke orang lain,” ungkapnya.
Pute berharap pertemuan antara sejumlah organisasi masyarakat sipil yang fokus pada penanggulangan HIV dengan instansi Pemkot Semarang seperti Dinsos dan Dinkes dapat mendorong masuknya isu HIV dan penyakit TB dalam RPJMD Kota Semarang. Upaya ini dinilai penting untuk mempermudah kerja petugas di lapangan dalam menjalankan program penanggulangan kasus tersebut.
Ketua Tim Kerja Pengendalian Penyakit Menular Langsung Dinkes Kota Semarang, Anggun Dessita Wandastuti, memastikan ketersediaan obat antiretroviral (ARV) bagi pasien HIV di Kota Semarang dalam kondisi aman. Ia menegaskan komitmen pemerintah dalam memberikan akses pengobatan bagi pasien yang terpapar HIV.
“Kami pastikan stok (obat) ARV untuk pasien HIV saat ini dalam kondisi aman. Karena memang (pengadaan) ARV-nya sepenuhnya dibeli dari anggaran APBN,” tandasnya.(day)

