Muhammad Naoval Ardan
Muhammad Naoval Ardan, pengurus Dewan Ustadz Pondok Pesantren Al-Amanah, Weding, Bonang, Kabupaten Demak mempertahankan disertasinya di depan Tim Penguji Ujian Doktor UIN Walisongo Semarang (Dok. Pesantren Al Amanah)

Teliti Pemikiran RMP Sosrokartono, Muhammad Naoval Ardan, Ustadz Pesantren Al-Amanah Demak Raih Gelar Doktor

SEMARANG[BahteraJateng] – Dewan Ustadz Pondok Pesantren Al-Amanah, Weding, Bonang, Kabupaten Demak, Muhammad Naoval Ardan meraih gelar doktor UIN Walisongo Semarang setelah mempertahankan disertasi berjudul ‘’Pendidikan Karakter Berbasis Spiritualitas: Studi Pemikiran RMP Sosrokartono’’ pada Selasa (30/6).

Naoval menghadapi tim penguji dipimpin Rektor UIN Walisongo Semarang Prof Dr H Musahadi MAg, Promotor Prof Dr H Abdul Jamil MA, Co-Promotor Prof Dr H Shodiq MAg, Prof Dr H Mudzakkir Ali MA, Dr Nasihun Amin MAg, Prof Dr H Abdul Muhaya MA, Dr H Karnadi MPd dan Dr Widiastuti MAg.

Tampak hadir dalam ujian promosi doktor tersebut Pengasuh Pondok Pesantren Al-Alamanah, Weding, Bonang, Kabupaten Demak Drs KH Ahmad Anas MSi, KH Abdullah Haidar atau Gus Abdar, Kepala Kantor Urusn Agama (KUA) Bonang
H. Jalalu Hilmi MAg, Kepala KUA Karanganyar Demak H Mahzum M.Hum, keluarga besar KH Hamdan Rofii AlHafidz dan lain-lain.

Salah satu pesan Rektor UIN Walisongo Semarang Prof Dr H Musahadi MAg kepada doktor baru Muhammad Naoval Ardan diharapkan bisa meneladani kakeknya KH Hamdan Rofii AlHafidz.

‘’Karena Mbah sampean dulu orang hebat dan alim sekali,’’ kata Musahadi. Musahadi sendiri mengaku sangat mengidolakan sosok almarhum Kiai Hamdan Rofii.

Dr Muhammad Naoval Ardan dalam disertasinya mengatakan, permasalahan pendidikan saat ini adalah lemahnya karakter seperti tidak disiplin, malas, tidak percaya diri, dan tidak bertanggung jawab terhadap lingkungannya.

‘’Pendidikan idealnya menghasilkan individu berkarakter kuat, berintegritas, dan tidak materialistis. Sebaliknya, komersialisasi pendidikan justru menjadikannya sekadar komoditas,’’ kata Naoval.

Menurutnya, industrialisasi dan komersialisasi berpotensi melahirkan manusia “robotik” yang kehilangan kepekaan, nilai kemanusiaan, dan akhirnya terjerumus pada hedonisme. Jika ini terjadi, nilai-nilai budaya luhur dan peradaban manusia akan runtuh.

Raden Mas Panji Sosrokartono (RMP Sosrokartono), lanjutnya, adalah figur yang kompleks dan berpengaruh dalam sejarah intelektual dan budaya Indonesia, yang seringkali kurang mendapat perhatian yang sepadan dengan kontribusinya.

Sebagai kakak dari Raden Ajeng Kartini, ia tidak hanya memainkan peran penting dalam mendukung emansipasi wanita di Indonesia melalui pertukaran ide dan semangat intelektual dengan Kartini, tetapi juga merupakan seorang pemikir yang orisinal dengan pandangan filosofis dan spiritual yang khas.

Dia menambahkan, di tengah tantangan modern berupa disorientasi nilai, materialisme, dan krisis identitas, pemikiran Sosrokartono menawarkan relevansi yang signifikan bagi pendidikan karakter.

“Penekanannya pada spiritualitas, etika, dan kearifan lokal dapat menjadi sumber inspirasi untuk mengembangkan pendekatan pendidikan yang holistik dan kontekstual, yang mampu membekali individu dengan fondasi moral yang kuat dan identitas yang kokoh,” ujarnya.(day)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *