BRIDA Kaltim Jajaki Peluang Kerjasama Dengan Sido Muncul
UNGARAN[BahteraJateng]– Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Provinsi Kalimantan Timur melakukan penjajakan peluang kerja sama dengan
PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk.
Penjajakan kerja sama diawali dengan melakukan kunjungan ke Pabrik Jamu Sido Muncul, di Bergas, Kabupaten Semarang, Selasa (25/6).
Penjajakan peluang kerja sama itu dalam pemanfaatan potensi alam berupa bahan baku jamu, serta pengelolaan Badan Usaha Milik Desa (BUMDES).
Rombongan yang terdiri dari para periset BRIDA dan Akademisi dari Universitas Mulawarman diterima langsung oleh Direktur Sido Muncul, Irwan Hidayat. Sebelumnya, rombongan BRIDA juga berkesempatan berkeliling pabrik dan melihat langsung proses produksi produk Sido Muncul.
Dalam kesempatan tersebut, Kabid Bidang Sosial dan Pemerintahan BRIDA Kalimantan Timur Endang Sugianti mengatakan di Kalimantan Timur, bahan baku jamu sangat berlimpah, baik yang diberdayakan oleh masyarakat desa maupun di hutan. Namun, keberadaannya masih belum banyak dimanfaatkan secara optimal.
“Melalui kunjungan ini kami ingin menjajaki apakah ada potensi dari Kaltim untuk mensuplai bahan baku bagi industri jamu di Sido Muncul ini, karena kita lihat Sido Muncul merupakan salah satu industri jamu dengan produk-produknya yang unggul di Indonesia,” ujarnya.
Menurutnya, Kaltim memiliki memiliki banyak bahan baku jamu yang tumbuh di hutan. Ada bahan baku bawang dayak, pasak bumi, kunyit putih, kunyit hitam, kayu bajaka, dan lainnya yang tidak ada di daerah lain.
“Kami ingin ada model kerja sama pemanfaatan potensi bahan baku untuk jamu ini, sekaligus pemberdayaan BUMDES di Kaltim dengan model jamu, yang bisa dikerjasamakan dengan Sido Muncul,” tuturnya.
Dia menambahkan, potensi bahan baku akan diklasterisasikan di setiap BUMDES, untuk kemudian juga diadakan riset saintifikasi jamu.
Dengan demikian, lanjutnya, diharapkan ke depan juga bisa memberikan penghasilan bagi BUMDES.
“Jadi nanti dari BRIDA yang akan melakukan risetnya, dan eksekusinya oleh Perusda, karena di Kaltim sendiri ada 1.037 desa dari 7 kabupaten,” ujarnya.
Sementara itu, Direktur PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul, Irwan Hidayat menyambut baik kunjungan dari BRIDA Kaltim. Menurutnya, terkait potensi bahan baku yang ada di Kaltim masih perlu dilakukan uji toksisitas bersama BPOM.
“Usul saya terkait potensi bahan baku itu perlu dilakukan perluasan uji toksisitas ke BPOM. Nanti hasil risetnya terkait kandungan, dan manfaatnya bisa diserahkan dulu ke BPOM, yang juga akan memperkaya daftar bahan baku jamu,” tutur Irwan.
Dia mencontohkan, BRIDA bisa meriset dulu produk saintifikasi awal, misal kayu pasak bumi kandungannya apa saja dan untuk apa manfaatnya. Nanti hasil risetnya serahkan ke BPOM, supaya dimasukkan ke daftar bahan jamu yang bisa digunakan.
“Di Indonesia sebenarnya potensi tanaman jamu ada 29.000-an jenis. Tapi baru 300-an jenis saja yang sudah melewati uji toksisitas dan masuk ke daftar BPOM. Nanti kita bisa kerja samakan untuk uji toksisitasnya, misal untuk pengadaan ekstraknya. Ini nanti juga ada uji sertifikasinya juga,” ujar Irwan.
Adapun terkait pengelolaan BUMDES, Irwan menambahkan, jika regulasi memperbolehkan, untuk memberikan hasil yang optimal bisa dibelikan properti sebagai investasi. Selain memberikan aset juga akan memberikan hasil yang bisa dimanfaatkan masyarakat.
“Kalau BUMDES berkeinginan mengelola bahan baku jamu untuk dipasok ke Sido Muncul, saya kira terlalu jauh, dan tidak cocok dengan ongkos transportasi yang mahal. Mungkin untuk pengembangan BUMDES bisa mencari ide investasi seperti properti. Itupun kalau regulasinya memperbolehkan,” tuturnya.

