PDAM Tirta Moedal Semarang
Plt Direktur Teknik PDAM Tirta Moedal, Hariyadi.(Dok BahteraJateng/day)
|

PDAM Tirta Moedal Tanggapi Sorotan Publik Soal Hidran di Kota Semarang

SEMARANG[BahteraJateng] – PDAM Tirta Moedal Kota Semarang menanggapi sorotan publik terkait kondisi hidran yang ramai diperbincangkan di media sosial.

Setidaknya terdapat dua persoalan utama yang menjadi perhatian, yakni hidran di Jalan Majapahit tepatnya di depan Kantor Polsek Pedurungan yang tertutup cor akibat pekerjaan jalan, serta keluhan Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) mengenai banyaknya hidran yang tidak berfungsi.

Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Teknik PDAM Tirta Moedal, Hariyadi, mengatakan pihaknya menaruh perhatian serius terhadap persoalan tersebut. Menurutnya, hidran merupakan fasilitas vital dalam penanganan kebakaran sehingga harus dipastikan berfungsi optimal.

“Dalam waktu dekat kami akan menggelar rapat koordinasi dengan Damkar dan OPD terkait untuk mengevaluasi penataan serta penguatan infrastruktur hidran,” ujar Hariyadi kepada BahteraJateng pada Senin (5/1).

Ia menjelaskan, pengelolaan hidran di Kota Semarang berada di bawah kewenangan lintas sektor. Beberapa instansi yang terlibat antara lain Damkar, Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Disperkim), serta Dinas Pekerjaan Umum (DPU).

Sementara PDAM Tirta Moedal memiliki tugas memastikan pemasangan instalasi dan suplai air ke hidran berjalan dengan baik.

Terkait jumlah hidran yang berfungsi dan tidak berfungsi, Hariyadi menyebut pihaknya belum dapat memastikan secara pasti. PDAM bersama Damkar dan instansi terkait akan melakukan penyisiran serta inventarisasi ulang di lapangan.

“Kami akan pastikan jumlahnya, lokasinya di mana saja, dan bagaimana kondisinya setelah dilakukan inventarisasi bersama,” katanya.

Hariyadi menambahkan, pengecekan akan dilakukan lintas sektor karena keberadaan hidran yang dekat dengan lokasi kebakaran sangat menentukan kecepatan dan efektivitas penanganan.

Menanggapi klaim Damkar yang menyebut dari total 79 hidran hanya 10 yang berfungsi, Hariyadi menegaskan pihaknya tidak ingin terburu-buru menarik kesimpulan sebelum data benar-benar tervalidasi.

Menurutnya, perlu dipastikan terlebih dahulu penyebab hidran tidak berfungsi, apakah karena aliran air, kondisi aset, atau faktor lainnya.

“Kami ingin data yang disampaikan ke publik benar-benar valid dan tidak menimbulkan kesimpangsiuran,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *