Menakar Jaminan Keselamatan dan Urgensi Transportasi Publik di Labuan Bajo
Oleh: Djoko Setijowarno
Labuan Bajo telah menjelma menjadi salah satu ikon pariwisata Indonesia yang dikenal dunia. Statusnya sebagai destinasi wisata superprioritas membawa harapan besar sekaligus tanggung jawab yang tidak ringan. Keindahan alam yang memukau, didukung pembangunan infrastruktur yang masif dalam beberapa tahun terakhir, telah berhasil menarik perhatian wisatawan domestik maupun mancanegara. Namun, sebuah destinasi kelas dunia tidak hanya dinilai dari panorama alamnya atau kemegahan fasilitas akomodasinya. Yang tidak kalah penting adalah sejauh mana destinasi tersebut mampu menjamin keselamatan dan kenyamanan setiap pengunjung.
Tragedi yang menimpa dua wisatawan asal Austria di kawasan Air Terjun Cunca Wulang pada Mei 2026 menjadi pengingat bahwa persoalan keselamatan masih menjadi pekerjaan rumah yang serius. Sebelumnya, sejumlah insiden lain juga terjadi, mulai dari kecelakaan kapal wisata hingga kerusakan fasilitas pendukung yang membahayakan pengunjung. Peristiwa-peristiwa tersebut tidak boleh dianggap sebagai kejadian biasa. Sebaliknya, harus menjadi alarm bagi seluruh pemangku kepentingan untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem keselamatan pariwisata di Labuan Bajo.
Sebagai destinasi superprioritas, Labuan Bajo semestinya memiliki standar keselamatan yang setara dengan destinasi wisata internasional lainnya. Keselamatan wisatawan harus ditempatkan sebagai prioritas utama dalam setiap kebijakan pembangunan. Pemerintah pusat, pemerintah daerah, pengelola destinasi, operator wisata, hingga masyarakat setempat perlu membangun sistem pengawasan yang lebih ketat dan terintegrasi. Ketersediaan rambu peringatan, petugas keselamatan, prosedur tanggap darurat, hingga inspeksi rutin terhadap sarana dan prasarana wisata harus menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pengelolaan destinasi.
Di sisi lain, pembenahan transportasi publik juga menjadi kebutuhan yang semakin mendesak. Selama ini pembangunan infrastruktur jalan dan trotoar di Labuan Bajo telah menunjukkan kemajuan yang signifikan. Namun, keberadaan infrastruktur tersebut belum sepenuhnya didukung oleh sistem transportasi umum yang memadai. Angkutan Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) yang tersedia masih terbatas pada rute tertentu dan belum mampu menjangkau kebutuhan mobilitas masyarakat maupun wisatawan secara luas.
Padahal, transportasi publik memiliki peran strategis dalam meningkatkan keselamatan dan kualitas layanan pariwisata. Dengan sistem angkutan yang terkelola baik, wisatawan memiliki pilihan transportasi yang aman, nyaman, dan terjangkau. Ketergantungan terhadap moda transportasi informal yang sulit diawasi pun dapat dikurangi. Selain itu, transportasi publik yang terintegrasi akan memudahkan wisatawan mengakses berbagai destinasi pendukung di luar kawasan utama, sekaligus memberikan manfaat nyata bagi warga lokal dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.
Momentum penyelenggaraan Pekan Olahraga Nasional (PON) 2028 di Nusa Tenggara Timur juga harus dimanfaatkan sebagai titik percepatan pembenahan. Ajang berskala nasional tersebut dipastikan akan meningkatkan mobilitas manusia dalam jumlah besar. Tanpa dukungan sistem transportasi yang modern dan terencana, potensi kemacetan, ketidakteraturan, serta penurunan kualitas pelayanan akan sulit dihindari.
Karena itu, pemerintah perlu mempertimbangkan penerapan skema pembelian layanan atau buy the service yang telah berhasil diterapkan di berbagai kota di Indonesia. Melalui skema ini, pemerintah dapat menjamin tersedianya layanan transportasi publik yang aman, tepat waktu, dan berkualitas tanpa membebani masyarakat dengan tarif tinggi.
Pada akhirnya, kemajuan sebuah destinasi wisata tidak hanya diukur dari jumlah kunjungan atau nilai investasi yang masuk. Yang lebih penting adalah kemampuan destinasi tersebut dalam menghadirkan rasa aman bagi wisatawan dan manfaat nyata bagi masyarakat lokal. Keselamatan dan transportasi publik bukan sekadar pelengkap pembangunan pariwisata, melainkan fondasi utama bagi keberlanjutan Labuan Bajo sebagai wajah pariwisata Indonesia di mata dunia. Dengan komitmen yang kuat dari seluruh pihak, predikat destinasi superprioritas dapat benar-benar bermakna bagi keselamatan, kenyamanan, dan kesejahteraan bersama.
(Djoko Setijowarno adalah Akademisi Prodi Teknik Sipil Unika Soegijapranata dan Dewan Penasihat Masyarakat Transportasi Indonesia/ MTI Pusat)

