Ahmad Yusril Ichza Mahendra
Ahmad Yusril Ichza Mahendra, saat mengikuti Semarang Mountain Race.(Foto. BahteraJateng/day)
|

Trail Run dan Cinta Alam: Perjalanan Yusril Menembus Batas

SEMARANG[BahteraJateng] – Trail run atau lari lintas alam kini semakin populer sebagai olahraga outdoor yang digemari berbagai kalangan. Berbeda dengan maraton di jalan raya, trail run mengajak peserta melintasi jalur pegunungan, hutan, hingga perbukitan dengan medan yang menantang. Udara segar, panorama alam, dan sensasi petualangan menjadi daya tarik utamanya.

Bagi Ahmad Yusril Ichza Mahendra, trail run bukan sekadar olahraga, melainkan juga bentuk eksplorasi diri di alam terbuka.


Ia mengaku tertarik mengikuti event trail run karena karakter jalurnya yang berbeda dibandingkan lomba lari konvensional.

“Ada dua karakter jalur yang berbeda dibanding maraton, yaitu jalur road dan jalur tanah. Pemandangannya juga lebih enak dilihat, jadi kita bisa sambil menikmati alam,” ungkap Yusril, sapaan akrabnya, kepada Bahtera Jateng, Minggu (10/5)

Kecintaannya pada aktivitas mendaki gunung menjadi modal awal yang membuatnya lebih mudah jatuh hati pada olahraga ini.

“Awalnya tertarik karena memang sudah punya basic suka naik gunung,” katanya.

Event pertama yang diikutinya adalah Semarang Mountain Race di Kabupaten Semarang pada April lalu. Meski baru pertama kali mengikuti ajang trail run, pengalaman tersebut meninggalkan kesan mendalam.

“Kesannya luar biasa enak,” ujarnya sambil tersenyum.

Pengalaman positif itu membuatnya semakin termotivasi mengikuti event-event berikutnya.

Setelah debut yang sukses, Yusril telah menyiapkan agenda trail run selanjutnya.

“Bulan Juni mengikuti Dieng Caldera Race, dan Agustus berpartisipasi dalam Merapi Merbabu De Trail,” katanya.

Baginya, setiap event menjadi kesempatan untuk menguji kemampuan fisik sekaligus menikmati keindahan alam di lokasi berbeda.

Sebagai olahraga ekstrem, trail run menuntut kondisi tubuh yang prima. Karena itu, Yusril menekankan pentingnya latihan rutin.

“Persiapannya latihan fisik, rutin lari, dan menjaga kebugaran,” jelasnya.

Latihan konsisten diperlukan untuk menghadapi tanjakan, turunan, serta batas waktu ketat selama perlombaan.

Menurut Yusril, perbedaan utama trail run dengan pendakian tiktok terletak pada tekanan waktu.

“Kalau pendaki tiktok tidak dikasih waktu. Kalau trail run ada waktu khusus di titik-titik tertentu. Jadi harus finish under COT (Cut Off Time),” terangnya.

Sistem Cut Off Time (COT) inilah yang membuat trail run lebih kompetitif dan menuntut kombinasi antara kecepatan, strategi, serta daya tahan.

Bagi Yusril, trail run bukan hanya tentang mencapai garis finis, tetapi juga menikmati perjalanan, pemandangan, dan tantangan alam.

“Meski debut kemarin tidak sukses karena over COT 5 menit, itu tidak mematahkan semangat saya untuk mengikuti event-event selanjutnya. Gas terus (lanjut terus-red),” katanya sambil tertawa lepas.

Di tengah kesibukannya sebagai seorang pengacara muda di Kota Semarang, olahraga ini menjadi cara baru untuk menjaga kebugaran sekaligus menyalurkan kecintaannya pada petualangan.

Trail run pun membuktikan bahwa olahraga ekstrem tidak hanya diminati atlet profesional, tetapi juga siapa saja yang ingin keluar dari rutinitas dan menantang batas diri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *