Prodi Teknik Pertambangan Unwahas Resmi Dibuka, Pertama di Jateng
SEMARANG[BahteraJateng] — Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) Semarang resmi membuka Program Studi (Prodi) S1 Teknik Pertambangan yang diklaim sebagai yang pertama di Jawa Tengah. Peresmian dilakukan oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, pada Sabtu (9/5).
Rektor Unwahas, Prof. Helmy Purwanto, menyampaikan bahwa pembukaan prodi tersebut telah mengantongi izin operasional dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi sejak 2 April 2026. Peresmian oleh Menteri ESDM menjadi penanda resmi dimulainya operasional prodi tersebut.

“Secara izin sudah keluar sejak 2 April, dan hari ini menjadi momen peluncuran resminya. Ini sekaligus menjadi Prodi Teknik Pertambangan pertama di Jawa Tengah,” ujar Prof Helmy kepada BahteraJateng.
Ia menjelaskan, pembukaan prodi ini dilatarbelakangi besarnya potensi sumber daya mineral Indonesia yang belum dimanfaatkan secara optimal. Melalui prodi tersebut, Unwahas menargetkan mencetak sumber daya manusia unggul yang mampu mengelola kekayaan mineral secara mandiri.
“Indonesia kaya akan mineral, tetapi pengelolaannya belum maksimal. Harapannya lulusan kami bisa berkontribusi dalam pengelolaan sumber daya tersebut secara profesional dan mandiri,” jelasnya.
Pada tahap awal, Unwahas membuka kuota sekitar 30 hingga 40 mahasiswa. Hingga saat ini, tercatat sudah ada 26 pendaftar.
“Untuk menarik minat calon mahasiswa, kampus juga memberikan potongan Sumbangan Pengembangan Institusi (SPI) sebesar 25 persen,” ungkapnya.
Dari sisi sumber daya pengajar, prodi ini telah didukung lima dosen dan akan terus ditambah seiring pengembangan.
Sementara fasilitas perkuliahan, termasuk ruang kelas dan laboratorium dasar, telah disiapkan di Kampus II Unwahas di bawah Fakultas Teknik.
Dengan dibukanya Prodi Teknik Pertambangan, kini Fakultas Teknik Unwahas memiliki empat program studi, yakni Teknik Mesin, Teknik Kimia, Informatika, dan Teknik Pertambangan.
Prof. Helmy berharap, ke depan prodi ini menjadi salah satu unggulan di lingkungan kampus, mengingat bidang pertambangan masih tergolong langka, khususnya di wilayah Jawa Tengah.
Sementara itu, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengapresiasi langkah Unwahas yang dinilai mulai masuk ke sektor strategis, tidak hanya fokus pada bidang sosial dan kesehatan.
“Saya mengucapkan terima kasih kepada Unwahas yang sudah mengembangkan program studi ke sektor strategis. Ini momentum yang baik,” ujarnya.
Menurut Bahlil, Indonesia memiliki kekayaan sumber daya alam yang besar, mulai dari nikel, batu bara, hingga mineral lainnya. Namun, pengelolaan sumber daya tersebut masih membutuhkan dukungan sumber daya manusia yang kompeten di bidang pertambangan.
“Kita punya sumber daya alam besar, tetapi pertanyaannya berapa banyak anak bangsa yang benar-benar menguasai sektor ini. Karena itu, pendidikan seperti ini menjadi penting,” tegasnya.
Ia juga menekankan pentingnya pemerataan pengelolaan sumber daya alam agar tidak hanya dikuasai kelompok tertentu, melainkan memberi manfaat lebih luas bagi masyarakat.
Dalam kesempatan itu, Bahlil juga mendorong penguatan aspek praktik dalam pembelajaran, termasuk penyediaan laboratorium sebagai penunjang kualitas lulusan.
“Pembelajaran itu tidak cukup teori, harus didukung praktik,” katanya.
Ketua Yayasan Wahid Hasyim Semarang, Prof. Noor Achmad, menilai pembukaan prodi ini penting karena sektor ESDM masih membutuhkan banyak inovasi dan kreativitas, terutama dalam pengembangan energi baru dan eksplorasi mineral.
“Indonesia masih membutuhkan inovasi di bidang energi dan mineral, mulai dari eksplorasi hingga penelitian yang berkelanjutan,” katanya.
Ia juga menyoroti masih minimnya tenaga ahli pertambangan dari kalangan Nahdlatul Ulama (NU), sehingga kehadiran prodi ini diharapkan dapat mengisi kebutuhan tersebut.
Selain itu, Prof. Noor menilai kepemimpinan Menteri ESDM saat ini turut memberikan dorongan bagi penguatan sektor energi nasional.
“Ini menjadi momentum untuk menjadikan Unwahas sebagai mitra strategis dalam pengembangan sektor pertambangan,” pungkasnya.

