UNY Telusuri Dugaan Riset Palsu Alumni di Konferensi Internasional ISPPD 2026
YOGYAKARTA[BahteraJateng] – Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) tengah menelusuri dugaan keterlibatan dua alumninya dalam kasus pemaparan riset palsu pada ajang Konferensi International Society of Pneumococcal and Pneumococcal Disease (ISPPD) 2026 di Copenhagen, Denmark.
Kasus tersebut ramai menjadi perbincangan setelah akun media sosial @mandharabrasika mengunggah utas yang menuding dua periset asal Indonesia, Prihantini dan Rifaldy Fajar, melakukan pemalsuan identitas sekaligus fabrikasi data penelitian.
Dalam unggahan itu disebutkan, riset yang dipresentasikan diduga dibuat menggunakan bantuan kecerdasan buatan atau AI, lengkap dengan data dan visual penelitian yang disebut tidak pernah benar-benar ada.
“Bukan hanya identitas, risetnya pun palsu. Dibuat dengan AI dan atau fabrikasi data. Risetnya dibuat dengan sangat hebat, padahal risetnya tidak pernah ada. Datanya palsu di-generate AI, gambar dan tulisannya juga,” tulis akun tersebut.
Penelitian itu disebut mengambil lokasi di berbagai negara, seperti Peruvian Andes, Ethiopia, Guatemala, Lebanon, Bangladesh, South Sudan, Filipina, Kenya, Nepal, Malawi, hingga India Utara.
Menanggapi isu tersebut, Wakil Rektor Bidang Akademik UNY, Nur Hidayanto, membenarkan bahwa dua nama yang ramai dibicarakan di media sosial tercatat sebagai alumni kampusnya.
Namun demikian, pihak kampus masih melakukan penelusuran lebih lanjut untuk memastikan kebenaran informasi yang beredar.
“Kalau dua nama itu kami telah melakukan penelusuran memang benar sebagai alumni. Tapi informasinya masih kami dalami dulu, kami tabayyun ke yang bersangkutan,” ujarnya saat dihubungi wartawan pada Kamis (28/5).
Nur Hidayanto menjelaskan, kedua nama tersebut merupakan alumni Program Studi Matematika S1 UNY. Meski demikian, pihaknya belum dapat menyimpulkan dugaan pelanggaran sebelum proses klarifikasi selesai dilakukan.
“Rifaldy itu, karena sekali lagi kami masih menelusuri, tercatat di Matematika S1. Kalau Prihantini juga Matematika S1. Kami perlu melakukan klarifikasi dan konfirmasi dulu,” katanya.
Dari dua nama yang disebut, baru Prihantini yang telah memberikan klarifikasi kepada pihak kampus. Sementara komunikasi dengan Rifaldy Fajar masih dilakukan.
UNY juga menyampaikan permohonan maaf atas kegaduhan yang muncul di media sosial akibat polemik tersebut. Kampus menilai sebagian informasi yang beredar belum tentu sepenuhnya benar sehingga perlu dilakukan pendalaman.
Hingga saat ini, belum ada laporan resmi yang diterima UNY terkait dugaan pemalsuan riset tersebut. Namun kampus membuka kemungkinan membawa persoalan itu ke komite etik apabila nantinya ditemukan adanya pelanggaran.
“Nanti kalau sudah ada klarifikasi dua itu jelas, kami memasukkan ke komite etik, karena tergantung hasilnya nanti,” ujarnya.
Menurutnya, mekanisme penanganan pelanggaran etik di lingkungan akademik memiliki tahapan tersendiri sesuai tingkat pelanggaran yang terjadi.
“Kalau di kami peraturan akademik ada tingkatan-tingkatan. Sebagai mahasiswa ya pelanggaran ini beda kasusnya kalau itu benar pelanggarannya,” pungkasnya.(day)

