Sajadah
Sajadah.(Foto. BahteraJateng/SJ)
|

Haji Mabrur dan Hidup Damai

Catatan Sugayo Jawama

Hidup tentram itu hidup damai tanpa rasa trauma peperangan. Baik peperangan batin, pikiran dan apalagi perang antar tubuh fisik. Adalah sifat alamiah barang ciptaan untuk saling memerangi antar sesamanya. Yang kuat menindas yang lemah. Yang besar menelan yang kecil. Kemudian sampai berperanglah antar mereka yang saling merasa paling kuat dan paling besar. Pantas saja bahasa Indonesia memunculkan diksi perangai buat me-notif-ikasi perilaku dasar manusia. Bahasa Indonesia juga mengenal kata rukun sebagai pedoman menjalani hidup yang tentram dan damai.


Kita juga mengenal istilah Rukun-Islam yang bermakna sebagai ungkapan jalan hidup yang penuh kedamaian. Menjalankan, mem-praktik-kan amalan ajaran Rukun Islam pun kita pahami dan yakini selaku Pedoman untuk mencapai kehidupan yang senantiasa berlangsung dalam suasana sarat atmosfer ke-damai-an. Yaitu sebagai berikut ini.

Syahadat: Pernyataan mengetahui adanya sang pencipta kehidupan ini sehingga menyadari perlunya mengikuti petunjuk dari sang Pencipta dalam menjalani kehidupan ini.


Shalat: Rangkaian kalimat Petunjuk kehidupan ini yang dilafatkan dalam rutinitas ritual harian agar selalu ter-update dalam ingatan sehingga pikiran kita senantiasa dalam orbit algoritma keterhubungan dengan Tuhan.Pencipta semesta ini.

Puasa Ramadan: untuk menjaga agar-supaya keterhubungan antara tubuh fisik kita dapat selalu selaras dengan ritme vibrasi alam semesta (praktik keterhubungan antara tubuh kita dengan ruang tempat kehidupan ini berlangsung).

Zakat: untuk memelihara interaksi sosial kita agar dapat selalu dalam keadaan setara norma etika dalam menjalani realita kehidupan harian sesama bangsa manusia yang menghuni planet ini. (Praktik keterhubungan di antara kita sesama manusia).

Haji adalah pemuncak pemahaman tentang adanya keseimbangan tatanan putaran alam semesta ini yang bergerak di dalam masing-masing orbit peredarannya. Predikat Haji Mabrur otomatis dapat tersandang dalam setiap individu pelaksananya. Manakala seluruh struktur bangunan ibadah agama sebelum berangkat haji itu sudah benar-benar terlaksanakan sehingga kemudian memutuskan niat untuk berangkat haji. Apabila salah satunya belum dilakukan ya sama saja dengan orang yang predikatnya belum mampu berhaji. Karena kalau pun tetap memaksakan diri untuk berpangkat ya predikatnya sekedar berpariwisata geografi.

Demikianlah struktur bangunan yang kita sebut agama itu dan bagaimana mengamal-praktikkannya dalam keseharian hidup ini.

(Semarang, 24-05-2026).

@Penulis adalah seseorang pembelajar agama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *