Tim Pengabdian Masyarakat Poltekkes Kemenkes Semarang Gelar Skrining Kesehatan Dasar di Mangunharjo
SEMARANG[BahteraJateng] – Tim Pengabdian Masyarakat (Pengabmas) Poltekkes Kemenkes Semarang menggelar skrining kesehatan dasar bagi warga Kelurahan Mangunharjo, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang. Kegiatan tersebut menjadi langkah promotif dan preventif untuk mendeteksi faktor risiko penyakit tidak menular (PTM) sejak dini.
Kegiatan dilaksanakan di halaman Kantor Kelurahan Mangunharjo pada Sabtu (27/6/2026), bertepatan dengan pelaksanaan Bulan Bhakti Gotong Royong Masyarakat (BBGRM) 2026. Sebanyak 34 warga mengikuti pemeriksaan dan bersedia menjadi peserta skrining.

Kegiatan melibatkan tim Pengabmas yang terdiri dari Indah Naryanti, Siti Masrochah, Sri Lestari, Mochammad Arief Darmawan, dan Niken Aulia Putri, mahasiswa Program Studi D3 Rekam Medis dan Informasi Kesehatan, Jurusan Rekam Medis dan Informasi Kesehatan, Poltekkes Kemenkes Semarang. Skrining dilakukan melalui pos layanan kesehatan yang diawali dengan registrasi dan pencatatan data dasar peserta.
Perwakilan tim Pengabmas, Indah Naryanti, menyampaikan pemeriksaan meliputi berat badan, tinggi badan, indeks massa tubuh (IMT), tekanan darah, saturasi oksigen, lingkar perut, serta gula darah sewaktu. Pemeriksaan tersebut dipilih untuk memberikan gambaran awal kondisi kesehatan warga sekaligus mengidentifikasi faktor risiko yang perlu mendapatkan perhatian lebih lanjut.

“Hasil kegiatan menunjukkan cukup banyak faktor risiko PTM ditemukan pada peserta. Dari 32 peserta dengan data IMT yang valid, sebanyak 20 orang masuk kategori berat badan berlebih atau obesitas. Rinciannya, delapan peserta mengalami berat badan berlebih dan 12 peserta berada dalam kategori obesitas,” ujarnya.
Selain itu, pengukuran lingkar perut menunjukkan 24 warga atau 70,6 persen dari seluruh peserta berada dalam kategori berisiko. Kondisi tersebut menjadi salah satu indikator yang perlu diperhatikan karena lingkar perut dapat digunakan untuk mengidentifikasi obesitas sentral dan berkaitan dengan risiko gangguan metabolik.
Pada pemeriksaan tekanan darah, sebanyak 20 peserta atau 58,8 persen terindikasi memiliki tekanan darah tinggi pada pengukuran awal. Sementara 12 peserta tidak menunjukkan tekanan darah tinggi dan dua data masih memerlukan validasi ulang.
“Hasil tersebut tidak dapat langsung digunakan untuk menetapkan diagnosis hipertensi. Pemeriksaan tekanan darah dilakukan dalam satu kesempatan sehingga peserta dengan hasil tinggi dianjurkan melakukan pemeriksaan ulang di fasilitas kesehatan,” jelasnya.
Skrining juga dilakukan melalui pemeriksaan gula darah sewaktu. Dari 31 data yang valid, sebanyak 26 peserta memiliki kadar gula darah kurang dari 140 mg/dL. Sementara dua peserta berada pada rentang 140-199 mg/dL dan tiga peserta memiliki hasil minimal 200 mg/dL.
Temuan tersebut menjadi bagian penting dalam upaya deteksi dini faktor risiko metabolik. Peserta dengan hasil gula darah tinggi dianjurkan melakukan pemeriksaan lanjutan di fasilitas kesehatan untuk mendapatkan penilaian tenaga kesehatan dan memastikan kondisi sebenarnya.
Sementara itu, pemeriksaan saturasi oksigen menunjukkan sebagian besar peserta berada dalam kondisi normal. Sebanyak 32 dari 33 data valid memiliki saturasi oksigen minimal 95 persen, sedangkan satu peserta tercatat memiliki saturasi di bawah 95 persen.
Selain pemeriksaan fisik, kegiatan juga disertai edukasi singkat mengenai perilaku hidup sehat melalui prinsip CERDIK. Edukasi tersebut mencakup cek kesehatan secara berkala, menghindari asap rokok, rajin melakukan aktivitas fisik, menerapkan pola makan seimbang, mencukupi waktu istirahat, serta mengelola stres.
“Skrining kesehatan dasar tidak hanya bertujuan menghasilkan data pemeriksaan, tetapi juga menjadi pintu masuk bagi masyarakat untuk lebih mengenali kondisi kesehatannya. Dengan mengetahui faktor risiko lebih awal, warga diharapkan dapat melakukan perubahan perilaku dan memperoleh tindak lanjut sebelum berkembang menjadi penyakit,” ujarnya.
Kegiatan ini juga merekomendasikan pelaksanaan skrining secara berkala dengan melibatkan kader dan fasilitas kesehatan primer. Peserta yang memiliki hasil pemeriksaan berisiko dianjurkan melakukan pemeriksaan ulang serta mendapatkan tindak lanjut sesuai kondisi masing-masing.
Melalui kegiatan tersebut, Tim Pengabdian Masyarakat Poltekkes Kemenkes Semarang berharap upaya promotif dan preventif dapat terus diperkuat di tingkat masyarakat.
“Deteksi dini melalui pemeriksaan sederhana sangat penting untuk meningkatkan kesadaran warga terhadap pencegahan PTM dan mendorong penerapan pola hidup sehat secara berkelanjutan,” pungkasnya.

