Mahasiswa GIAT 16 UNNES Ajak Warga Kentengsari Kelola Sampah
Mahasiswa GIAT 16 Universitas Negeri Semarang (UNNES) mengajak masyarakat Desa Kentengsari, Kecamatan Windusari, Kabupaten Magelang, untuk lebih peduli terhadap pengelolaan sampah rumah tangga menggunakan ecobrick serta lubang resapan biopori bersama anggota Dawis Flamboyan RT 04/RW 01 pada Selasa (11/8). [Foto: Istimewa]
| |

Mahasiswa GIAT 16 UNNES Ajak Warga Kentengsari Kelola Sampah

MAGELANG[BahteraJateng] –  Mahasiswa GIAT 16 Universitas Negeri Semarang (UNNES) mengajak masyarakat Desa Kentengsari, Kecamatan Windusari, Kabupaten Magelang, untuk lebih peduli terhadap pengelolaan sampah rumah tangga. Ajakan tersebut disampaikan melalui kegiatan sosialisasi dan praktik pengelolaan sampah menggunakan ecobrick serta lubang resapan biopori bersama anggota Dawis Flamboyan RT 04/RW 01 pada Selasa (11/8/2026). Kegiatan ini diikuti oleh sekitar 20 peserta.

Kegiatan tersebut merupakan salah satu program kerja mahasiswa GIAT 16 UNNES yang bertujuan memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai pemilahan sampah organik dan anorganik serta cara sederhana untuk mengelolanya dari lingkungan rumah tangga.


Mengenalkan Pemilahan Sampah melalui Ecobrick dan Biopori

Pada sesi pertama, mahasiswa memberikan sosialisasi mengenai pemilahan sampah berdasarkan jenisnya. Masyarakat diajak untuk membedakan sampah organik dan anorganik sehingga masing-masing jenis sampah dapat dikelola dengan cara yang sesuai.


Untuk sampah anorganik, khususnya sampah plastik, mahasiswa memperkenalkan ecobrick sebagai salah satu alternatif pemanfaatannya. Ecobrick dibuat dengan memasukkan sampah plastik yang telah dikumpulkan ke dalam botol plastik kemudian memadatkannya hingga menjadi material yang lebih padat dan dapat dimanfaatkan kembali.

Mahasiswa juga memberikan demonstrasi pembuatan ecobrick agar masyarakat dapat memahami prosesnya secara langsung. Dalam kegiatan tersebut, proses pengumpulan bahan untuk ecobrick masih berlangsung sehingga belum seluruh hasilnya terkumpul. Meskipun demikian, masyarakat telah mendapatkan pengetahuan dan gambaran mengenai cara pembuatan ecobrick yang dapat diterapkan secara mandiri di rumah.

Selain pengelolaan sampah plastik, mahasiswa memperkenalkan lubang resapan biopori sebagai salah satu cara sederhana untuk mengelola sampah organik. Masyarakat diberikan penjelasan mengenai fungsi biopori serta cara penerapannya di lingkungan sekitar.

Praktik Penerapan Lubang Resapan Biopori

Setelah sosialisasi, kegiatan dilanjutkan dengan praktik penerapan lubang resapan biopori di lingkungan RT 04/RW 01. Mahasiswa bersama masyarakat melakukan proses pembuatan lubang secara langsung sehingga peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan melalui penjelasan, tetapi juga dapat melihat penerapannya di lapangan.

Dari praktik tersebut, lubang resapan biopori berhasil dibuat di lingkungan kegiatan. Lubang tersebut dapat dimanfaatkan untuk membantu pengelolaan sampah organik sekaligus mendukung proses peresapan air ke dalam tanah.

Naida, salah satu mahasiswa GIAT 16 UNNES, mengatakan bahwa kegiatan ini diharapkan dapat mendorong masyarakat untuk memulai pengelolaan sampah dari lingkungan rumah masing-masing.

“Melalui kegiatan ini, kami ingin menunjukkan bahwa pengelolaan sampah dapat dimulai dari langkah sederhana. Sampah plastik dapat dikumpulkan dan dimanfaatkan melalui ecobrick, sedangkan sampah organik dapat dikelola dengan memanfaatkan lubang resapan biopori,” ujar Naida.

Masyarakat yang mengikuti kegiatan menunjukkan ketertarikan yang tinggi terhadap materi yang disampaikan. Antusiasme peserta terlihat selama proses sosialisasi, demonstrasi ecobrick, hingga praktik penerapan lubang resapan biopori.

Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa GIAT 16 UNNES berharap pengetahuan yang telah diberikan dapat diterapkan secara berkelanjutan oleh masyarakat. Pemilahan sampah dari rumah, pemanfaatan sampah plastik melalui ecobrick, serta penerapan lubang resapan biopori diharapkan dapat menjadi langkah sederhana yang dilakukan secara konsisten untuk menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan Desa Kentengsari.

Sumber : Erlangga, Mahasiswa GIAT 16 UNNES

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *