BHB : Perbankan Sehat Harus Mampu Menekan Kredit Macet
TEMANGGUNG[BahteraJateng] – Komisi C DPRD Provinsi Jateng menaruh perhatian serius terhadap kinerja Bank Jateng, khususnya rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loans (NPL) di Kantor Cabang Temanggung dan Wonosobo.
Di tengah tantangan sektor perbankan, NPL di kedua kantor cabang Bank Jateng itu masih berada di bawah ambang batas 5% yang ditetapkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), namun tetep perlu diantisipasi agar tidak mempengaruhi kesehatan Bank Jateng.

Dikutip dari laman dprd.jatengprov.go.id, Ketua Komisi C DPRD Jateng Bambang Haryanto mengatakan, pengawasan terhadap rasio NPL menjadi salah satu indikator penting dalam menilai kesehatan lembaga perbankan. Berdasarkan hasil pemantauan, NPL Bank Jateng Cabang Temanggung meningkat dari 0,34% pada Desember 2025 menjadi 0,73% pada semester I 2026.
“Memang masih jauh di bawah batas yang ditetapkan OJK tapi tren kenaikan ini harus menjadi perhatian bersama. Kami ingin mengetahui faktor penyebabnya agar bisa segera diantisipasi,” ujar Bambang, politikus PDI Perjuangan yang akrab disapa dengan BHB itu, Selasa (28/7).

Menurutnya, tantangan yang dihadapi Bank Jateng juga mencerminkan kondisi industri perbankan secara umum. Selain menjaga kualitas kredit, perbankan saat ini juga menghadapi tantangan dalam menghimpun dana pihak ketiga serta mendorong penyaluran kredit kepada masyarakat dan pelaku usaha agar tetap tumbuh.
“Perbankan memiliki fungsi intermediasi yang sangat strategis yakni menghimpun dana masyarakat untuk kemudian disalurkan kembali dalam bentuk pembiayaan. Karena itu, keseimbangan antara pertumbuhan kredit, kualitas pembiayaan, dan penghimpunan dana menjadi kunci menjaga stabilitas serta mendukung pertumbuhan ekonomi daerah,” tuturnya.
Komisi C, jelasnya, juga mendorong jajaran Bank Jateng memperkuat inovasi dan kolaborasi dalam menghadapi dinamika ekonomi, agar bank daerah mampu menjaga daya saing sekaligus meminimalkan risiko kredit bermasalah.
“Yang penting adalah bagaimana kolaborasi dan inovasi dari para pimpinan cabang untuk bisa keluar dari berbagai persoalan yang dihadapi saat ini,” katanya.
Sementara itu, Pemimpin Cabang Bank Jateng Temanggung Heru Purnomo mengungkapkan perlambatan sektor tembakau turut memengaruhi aktivitas ekonomi di wilayahnya. Kondisi tersebut dipicu melemahnya hasil penjualan tembakau.
“Ditambah dalam tiga tahun terakhir salah satu perusahaan rokok besar tidak lagi menyerap hasil panen petani Temanggung,” ujaranya.
RUMAH TANGGA
Monitoring juga dilaksanakan di Kantor Cabang Wonosobo, Rabu (29/7/2026). Disana, jajaran manajemen Bank Jateng Cabang Wonosobo menyebut penyaluran kredit terbesar masih berada pada sektor rumah tangga dengan nilai mencapai Rp797 miliar.
Setelah itu disusul sektor perdagangan besar dan eceran, pertanian, perburuhan, dan kehutanan. Sementara penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) telah mencapai Rp168 miliar sebagai dukungan terhadap pembiayaan usaha produktif. Sementara rasio NPL naik dari 0,83% menjadi 0,86% pada periode yang sama.
“Kondisi sektor riil seperti itu perlu menjadi perhatian karena berpotensi memengaruhi kemampuan debitur saat memenuhi kewajiban kreditnya,” kata Bambang Haryanto.

