Islam Indonesia Dinilai Berpotensi Jadi Soft Power Indonesia di Kancah Global
SEMARANG[BahteraJateng] – Islam Indonesia dinilai memiliki potensi besar untuk menjadi salah satu kekuatan lunak atau soft power Indonesia di kancah global. Potensi tersebut tidak hanya ditopang oleh jumlah umat Islam yang besar, tetapi juga pengalaman Indonesia dalam mengembangkan kehidupan Islam yang demokratis, terbuka, dan berinteraksi dengan keragaman budaya.
Hal itu disampaikan Prof. Muhyar Fanani, dalam International Seminar on Indonesian Islam and Global Affairs yang digelar Pascasarjana UIN Walisongo Semarang di Ruang Teater Gedung Kiai Saleh Darat pada Senin (10/8).
Seminar itu turut menghadirkan akademisi dan pakar lainnya, yakni Prof. Robert W. Hefner, dan Prof. Sumanto Al Qurtuby.
Prof. Muhyar Fanani menilai Islam Indonesia dapat menjadi salah satu jangkar dalam membangun sekaligus memperkuat soft power Indonesia di tingkat internasional. Untuk mewujudkan potensi tersebut, diperlukan strategi yang terarah, konsisten, dan berkelanjutan.
“Perlunya penyusunan blueprint yang komprehensif untuk mengembangkan soft power Indonesia dengan Islam Indonesia sebagai salah satu fondasinya,” ujarnya.
Menurut Muhyar, gagasan tersebut menempatkan Islam Indonesia bukan sekadar identitas keagamaan, tetapi juga sebagai kekuatan sosial dan diplomasi yang dapat berkontribusi dalam hubungan internasional.
Pandangan tersebut diperkuat Prof. Robert W. Hefner yang melihat pengalaman Indonesia dalam mengelola Islam, tradisi, dan keragaman sebagai sesuatu yang menarik dalam perkembangan Islam di Asia.
Hefner menyebut umat Islam Indonesia memiliki karakter besar, aktif, dan demokratis. Selain itu, organisasi kemasyarakatan Islam di Indonesia telah berkontribusi luas dalam berbagai bidang sosial.
“Umat Islam Indonesia itu besar, aktif, dan demokratis,” ujar Hefner.
Sementara itu, Prof. Sumanto Al Qurtuby mengingatkan pentingnya memahami konflik Timur Tengah secara lebih kompleks.
“Konflik di kawasan tersebut tidak semata-mata berkaitan dengan persoalan agama, tetapi juga dipengaruhi geopolitik, perebutan wilayah, kompetisi kekuasaan berbasis etnis, serta dinamika internal masing-masing negara,” jelasnya.
Rektor UIN Walisongo Semarang Prof. Musahadi, mengatakan seminar tersebut menjadi kesempatan penting bagi sivitas akademika untuk mendiskusikan berbagai persoalan global yang dihadapi umat Islam Indonesia.
“Ini merupakan kesempatan besar yang bisa kita manfaatkan untuk berdiskusi tentang permasalahan global yang muncul dan kita hadapi sebagai umat Muslim di Indonesia,” katanya Musahadi.
Seminar ini sekaligus memperkuat ruang dialog akademik mengenai posisi Islam Indonesia dalam merespons perubahan global sekaligus membuka peluang pengembangan peran Indonesia melalui kekuatan sosial, keagamaan, dan diplomasi.


