Target Besar, Anggaran Terbatas, Dewan Minta Dukungan LPTQ Semarang Diseimbangkan
SEMARANG[BahteraJateng] — Wakil Ketua DPRD Kota Semarang, Suharsono, meminta dukungan program dan anggaran untuk Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur’an (LPTQ) Kota Semarang disesuaikan dengan target pembinaan yang diberikan.
Suharsono menilai dukungan anggaran LPTQ Kota Semarang pada 2026 yang hanya sekitar Rp500 juta perlu dievaluasi. Menurutnya, besarnya tanggung jawab LPTQ harus diimbangi dengan dukungan sumber daya yang memadai.
Hal tersebut disampaikan Suharsono dalam kegiatan Pembinaan Pengurus LPTQ Kota Semarang di Hotel Pandanaran Semarang pada Rabu (5/8/2026).
“Kalau kita memberikan target yang besar kepada LPTQ, maka dukungan program dan anggarannya juga harus seimbang. Jangan sampai targetnya tinggi, tetapi ruang geraknya sangat terbatas karena anggaran yang tersedia minim,” kata Suharsono.
Ia menjelaskan, LPTQ memiliki tanggung jawab dalam pembinaan Al-Qur’an, peningkatan kualitas qari dan qariah, hafiz dan hafizah, hingga penguatan kapasitas pembina dan regenerasi peserta Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ).
Karena itu, Suharsono menilai pembinaan tidak seharusnya hanya dilakukan menjelang pelaksanaan MTQ. Pembinaan perlu berlangsung secara berkelanjutan, mulai dari pencarian bibit potensial hingga peningkatan kualitas pelatih dan persiapan regenerasi.
“Pembinaan tidak boleh hanya dilakukan ketika akan menghadapi MTQ. Kita membutuhkan proses yang berkelanjutan, mulai dari mencari bibit potensial, melakukan pembinaan, meningkatkan kualitas pelatih, sampai menyiapkan regenerasi,” ujarnya.
Suharsono meminta Pemerintah Kota Semarang bersama DPRD memberikan perhatian lebih terhadap penguatan LPTQ. Menurutnya, evaluasi anggaran perlu dilakukan dengan mempertimbangkan program dan target pembinaan selama satu tahun.
Ia menegaskan, besaran anggaran bukan satu-satunya persoalan. Hal yang lebih penting adalah memastikan dukungan tersebut mampu menjawab kebutuhan pembinaan dan mendukung cita-cita Kota Semarang dalam membangun generasi Qurani.
“Rp500 juta bukan hanya persoalan nominal anggaran. Yang perlu kita lihat adalah apakah anggaran tersebut sudah cukup untuk menjawab kebutuhan pembinaan selama satu tahun,” katanya.


