International Guest Lecture UIN Walisongo
Forum International Guest Lecture yang digelar Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN Walisongo Semarang pada Selasa (13/10).(Dok. UIN Walisongo)

Kasus Islamofobia di Jerman Naik 60 Persen, Kampanye Inklusif Jadi Sorotan UIN Walisongo

SEMARANG[BahteraJateng] — Kasus diskriminasi terhadap umat Islam di Jerman menjadi sorotan dalam International Guest Lecture yang digelar Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN Walisongo Semarang pada Selasa (13/10). Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa mempelajari strategi komunikasi dan kampanye inklusif untuk melawan Islamofobia.

Organisasi CLAIM mencatat sebanyak 3.080 insiden anti-Muslim terjadi di Jerman sepanjang 2024. Jumlah tersebut meningkat 60 persen dibandingkan tahun sebelumnya, menunjukkan diskriminasi terhadap umat Islam masih menjadi tantangan dalam kehidupan masyarakat multikultural.

Kuliah tamu internasional yang diselenggarakan Walisongo Public Relations Community (WPRC) itu mengusung tema Public Relations Campaigns for Inclusion, Countering Islamophobia, and Advancing Religious Moderation. Kegiatan berlangsung di Theater Lantai 4 Perpustakaan UIN Walisongo dan diikuti 120 mahasiswa.

Narasumber utama, Selin Aydin, M.A., Head of Office of Administration and Policy, House of Representatives Berlin, Jerman, membagikan pengalamannya dalam kampanye politik inklusif bertajuk Einer von uns atau One of Us.

Dalam pemaparannya, Selin menjelaskan bahwa rasisme anti-Muslim dan diskriminasi terhadap kelompok minoritas dapat berakar dari prasangka, termasuk terhadap penampilan fisik seseorang. Ia juga menyoroti bagaimana penggunaan bahasa dalam kampanye dapat memunculkan respons publik yang berbeda.

Menurut Selin, poster kampanye yang diterjemahkan ke dalam bahasa Arab dan Turki sempat memicu penolakan, sedangkan penggunaan bahasa Inggris diterima secara wajar. Pengalaman tersebut menunjukkan pentingnya aksesibilitas dan keterwakilan kelompok minoritas dalam komunikasi publik.

“The question here is who has the capability and access to speak in a room that was actually not made for them,” ujar Selin.

Ia menegaskan, kampanye Public Relations yang efektif harus diawali dengan pemahaman terhadap kebutuhan audiens, penetapan tujuan yang jelas, pembukaan ruang partisipasi publik, serta evaluasi respons masyarakat.

Kampanye, menurut dia, tidak cukup hanya menyampaikan pesan. Strategi komunikasi juga harus memastikan audiens merasa terwakili, memahami pesan, dan terdorong untuk terlibat.

Dekan FDK UIN Walisongo, Dr. Nasihun Amin, mengapresiasi kegiatan tersebut karena memberikan perspektif internasional kepada mahasiswa mengenai pentingnya komunikasi strategis dalam menghadapi Islamofobia dan membangun citra Islam yang inklusif.

Sementara itu, dosen Islam dan Moderasi Beragama UIN Walisongo, Zainurakhmah, M.A., menekankan bahwa moderasi beragama tidak boleh berhenti pada pemahaman akademis, tetapi perlu diwujudkan melalui tindakan nyata dan kampanye sosial yang menghadirkan kedamaian di tengah masyarakat.

Kegiatan yang menjadi kuliah tamu internasional pertama WPRC tersebut merupakan bagian dari pembelajaran mata kuliah Komunikasi dan Kampanye Public Relations yang diampu Alifa Nur Fitri.

Melalui kegiatan ini, mahasiswa diharapkan memahami praktik kampanye secara langsung serta mengembangkan strategi komunikasi yang mampu merajut inklusivitas, melawan stereotip, dan memperkuat pesan perdamaian di tingkat global.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *