Wisuda Panatacara Sanggar Reksa Budaya Jawa
Pengampu Sanggar Seni Reksa Budaya Jawa, Bopo Sudarmo Kusumo Diharjo. mewisuda 28 siswa yang telah menyelesaikan pendidikan panatacara angkatan VI. di Sanggar Seni Reksa Budaya Jawa di Desa Karangawen, Kabupaten Demak, Minggu (4/10).(Foto. Bahtera Jateng/PH)

28 Siswa Wisuda Panatacara, Reksa Budaya Jawa Siapkan Generasi Pelestari Tradisi

DEMAK[BahteraJateng] – Sebanyak 28 siswa Sanggar Seni Reksa Budaya Jawa di Desa Karangawen, Kabupaten Demak, Jawa Tengah, diwisuda setelah menyelesaikan pendidikan panatacara atau pembawa acara adat Jawa pada Minggu (4/10).

Wisuda Purna Wiyata Panatacara Tuwin Pamedhar Sabda Bregada VI tersebut berlangsung di Sanggar Reksa Budaya Jawa dan dipimpin langsung oleh pengampu sanggar, Bopo Sudarmo Kusumo Diharjo.

Sejak pagi, ratusan tamu undangan, keluarga wisudawan, serta pegiat dan pemerhati budaya Jawa mulai memadati lingkungan sanggar. Kegiatan tersebut menjadi salah satu ruang bagi generasi muda untuk mengenal sekaligus mendalami seni, bahasa, dan tata krama budaya Jawa.

Rangkaian wisuda diawali dengan doa bersama, kemudian dilanjutkan dengan pengumandangan lagu kebangsaan “Indonesia Raya”. Suasana acara semakin semarak dengan penampilan sejumlah tarian tradisional yang dibawakan para siswi Sanggar Reksa Budaya Jawa.

Nuansa budaya Jawa juga terasa dalam berbagai hidangan dan kudapan tradisional yang disuguhkan kepada para tamu. Selain menjadi bagian dari rangkaian acara, sajian tersebut turut memperkenalkan kekayaan kuliner tradisional kepada para peserta dan tamu yang hadir.

Pada puncak acara, Bopo Sudarmo Kusumo Diharjo secara resmi mewisuda 28 siswa yang telah menyelesaikan pendidikan panatacara angkatan VI. Mereka terdiri atas 22 siswa putra dan enam siswa putri.

Para lulusan tersebut dipersiapkan menjadi generasi penerus panatacara, yakni sosok yang memiliki peran penting dalam berbagai kegiatan dan upacara adat Jawa. Seorang panatacara tidak hanya dituntut mampu berbicara menggunakan bahasa Jawa dengan baik, tetapi juga memahami tata krama, etika, unggah-ungguh, serta filosofi yang terkandung dalam tradisi Jawa.

Bopo Sudarmo mengatakan, pendidikan panatacara menjadi salah satu upaya yang dilakukan Sanggar Reksa Budaya Jawa untuk menjaga keberlangsungan tradisi Jawa di tengah perkembangan zaman.

“Kami akan terus membuka kelas-kelas berikutnya. Pelestarian budaya tidak boleh berhenti. Generasi muda harus diberi ruang untuk belajar sekaligus mencintai warisan leluhurnya,” ujar Sudarmo kepada awak media BahteraJateng seusai acara.

Menurut dia, minat masyarakat untuk mempelajari panatacara masih cukup besar. Hal itu terlihat dari adanya sekitar 65 calon siswa yang telah menyatakan minat untuk mengikuti pendidikan panatacara pada angkatan berikutnya.

Antusiasme tersebut, kata Sudarmo, menjadi dorongan bagi sanggar untuk terus menyelenggarakan pendidikan seni dan budaya secara berkelanjutan.

“Sudah ada calon siswa-siswi baru sebanyak 65 orang yang mendaftar untuk mengikuti sekolah pranatacara,” katanya.

Ia berharap keberadaan pendidikan panatacara tidak hanya melahirkan pembawa acara adat Jawa, tetapi juga generasi muda yang memahami nilai-nilai budaya dan memiliki kepedulian untuk meneruskannya.

Wisuda kemudian ditutup dengan sesi foto bersama para wisudawan, tamu undangan, dan para pengampu sanggar. Kegiatan tersebut sekaligus menjadi penanda komitmen bersama untuk menjaga keberadaan seni, bahasa, dan tradisi Jawa agar tetap hidup dan dipelajari oleh generasi berikutnya di tengah arus modernitas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *