Gubug legen Dhe No
Gubug Legen Dhe No di Rembang, puluhan tahun menjual minuman tradisional legen.(Foto. BahteraJateng/PI)

Jejak Manis Legen dari Rembang: Dari Pohon Siwalan ke Meja Kehidupan

REMBANG[BahteraJateng] – Di bawah rindangnya pohon siwalan yang menjulang tinggi, Suparno (64) memulai harinya. Warga Desa Kebonagung, Kecamatan Sulang, Kabupaten Rembang itu sudah puluhan tahun setia menjalani profesi sebagai penderes nira, bahan utama minuman khas bernama legen.

Bagi sebagian orang, legen mungkin sekadar minuman tradisional berwarna bening dengan rasa manis segar. Namun bagi pria yang akrab disapa Dhe No ini, legen adalah perjalanan panjang, ketelatenan, sekaligus sumber kehidupan.


“Prosesnya tidak bisa instan,” ujarnya sambil menunjuk bumbung bambu yang menggantung di pohon siwalan.

Untuk mendapatkan tetesan nira terbaik, Dhe No harus melalui serangkaian tahapan yang memakan waktu hingga satu minggu. Dimulai dari proses nyeples atau membuat penyangga bumbung yang bisa memakan waktu hingga lima hari. Setelah itu, manggar jantan disayat, direndam selama dua malam, lalu ditiriskan sebelum akhirnya mengeluarkan nira.

Jika semua tahapan dilakukan dengan tepat, satu pohon siwalan bisa menghasilkan hingga 4,5 liter nira per hari, bahkan bertahan hingga tiga bulan. Namun, tidak semua pohon bisa dipanen. Pohon siwalan baru dapat dideres ketika usianya mencapai sekitar 30 tahun.

Di balik proses yang panjang itu, tersimpan cerita ketekunan. Dari hasil menjual legen, Dhe No mampu menyekolahkan kedua anaknya hingga perguruan tinggi.

“Alhamdulillah, yang pertama di UNDIP, yang kedua di Brawijaya,” katanya dengan senyum bangga. “Kuncinya satu, jaga kualitas.”

Tak berhenti di situ, usaha legen yang ia rintis juga berkembang. Bersama keluarganya, Dhe No mulai memproduksi dumbeg, jajanan tradisional khas Rembang yang dibungkus daun lontar. Dalam sebulan terakhir, produksinya bahkan telah menghabiskan lebih dari satu ton beras dan melibatkan 16 warga sekitar.

Pesanan meningkat saat musim sedekah bumi, datang dari berbagai daerah seperti Blora, Rembang, hingga Pati. Gubuk sederhana miliknya pun kini menjadi tempat persinggahan bagi penikmat legen sekaligus saksi hidup keberlanjutan tradisi lama.

Meski zaman terus berubah, Dhe No tetap setia menjaga warisan leluhur. Di tengah arus modernisasi, ia membuktikan bahwa tradisi bukan sekadar untuk dikenang, tetapi juga bisa menjadi jalan hidup yang menghidupi.(day)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *