Sekilas lanskap keamanan siber pada periode Januari sampai dengan Oktober 2025 oleh Direktorat Operasi Keamanan Siber BSSN.
|

Korban atau Berkurban? Semangat Iduladha dan Kesadaran Keamanan Siber di Indonesia

JAKARTA[BahteraJateng] – Iduladha 1447 Hijriah mengajarkan satu nilai fundamental yang universal: pengorbanan secara sadar dan ikhlas.

Seekor hewan kurban disembelih bukan karena paksaan, melainkan karena keyakinan dan keikhlasan hati. Nilai ini menarik jika kita tarik ke dalam realitas keamanan siber di Indonesia.

Pertanyaannya, ketika data pribadi kita bocor, ketika rekening kita dikuras melalui social engineering, atau ketika identitas digital kita dipakai untuk judi online tanpa sepengetahuan kita apakah itu pengorbanan yang sadar? Atau kita sedang menjadi korban?

Chairman Lembaga Riset Keamanan Siber CISSReC Dr. Pratama Persadha. [Foto: Istimewa]
Dalam catatan Lembaga Riset Keamanan Siber CISSReC menyebutkan sepanjang tahun 2025 hingga pertengahan 2026, Indonesia terus diguncang berbagai insiden kebocoran data. Data 240 juta jiwa penduduk Indonesia dikabarkan diperjualbelikan di dark web. Berbagai platform e-commerce, lembaga keuangan, dan layanan publik mengalami insiden kebocoran yang merugikan masyarakat.

Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) mencatat 5,2 miliar anomali trafik hingga akhir 2025, dengan sektor keuangan menjadi yang paling rentan. Di sisi lain, modus penipuan digital terus berevolusi, dari phishing klasik hingga deepfake berbasis kecerdasan buatan (AI) yang hampir tidak bisa dibedakan dari komunikasi asli.

Dalam konteks inilah, kata Chairman Lembaga Riset Keamanan Siber CISSReC Dr. Pratama Persadha melalui WhatsApp, Rabu (27-5-2026), semangat Iduladha menjadi relevan. Pratama memandang perlu mengajak masyarakat untuk membedakan antara menjadi korban dan berkurban. Menjadi korban berarti kehilangan data atau uang tanpa sadar dan tanpa izin. Seseorang yang data pribadinya bocor karena kelalaian penyedia layanan adalah korban.

Sementara itu, berkurban dalam konteks keamanan siber berarti secara sadar mengorbankan sedikit kenyamanan demi keamanan yang lebih besar. Memasang autentikasi dua faktor memang merepotkan. Mengganti password secara berkala memang tidak praktis. Memverifikasi setiap pesan WhatsApp yang mengatasnamakan bank atau lembaga resmi memang memakan waktu. Akan tetapi, kata Pratama, itu merupakan pengorbanan kecil yang justru melindungi aset digital kita.

Pratama menilai bahwa budaya digital Indonesia masih sangat lemah dalam hal kesadaran ini. Banyak anggota masyarakat yang masih tergiur dengan tawaran hadiah palsu, tautan mencurigakan, atau aplikasi yang meminta izin akses berlebihan.

Pola ini, menurut Pratama, mirip dengan hewan yang digiring ke tempat pemotongan tanpa sadar akan apa yang terjadi. Bedanya, dalam Iduladha hewan kurban dipilih secara sadar oleh yang berkurban. Dalam dunia digital, rakyat sering menjadi pihak yang tidak pernah diajak berunding ketika data mereka diperdagangkan atau identitas mereka dipalsukan.

Kesadaran ini harus dibangun dari hulu. Pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) dan BSSN perlu terus menggencarkan literasi keamanan siber yang membumi, bukan sekadar seminar dan buku saku yang tidak pernah dibaca.

Di sinilah masyarakat perlu diedukasi dengan bahasa yang sederhana dan relevan, termasuk melalui momen-momen budaya seperti Iduladha. Analogi kurban bisa menjadi pintu masuk yang efektif untuk menjelaskan bahwa setiap pengorbanan kecil dalam menjaga keamanan digital adalah ibadah dalam konteks melindungi diri dan keluarga dari kejahatan siber.

Di sisi lain, negara juga harus menunjukkan pengorbanan yang nyata. Pembentukan Badan Pelindungan Data Pribadi yang diamanatkan UU PDP harus segera direalisasikan. Peraturan Pemerintah sebagai turunan UU PDP harus segera diterbitkan. RUU Keamanan dan Ketahanan Siber yang sudah masuk Prolegnas harus dipercepat pembahasannya.

“Tanpa pengorbanan struktural dan anggaran dari negara, masyarakat hanya akan terus menjadi korban, bukan pihak yang berkurban secara sadar,” kata Pratama yang juga dosen pascasarjana di Sekolah Tinggi Intelijen Negara (STIN).

Pakar keamanan siber ini mengemukakan Iduladha mengajarkan bahwa pengorbanan yang paling bernilai adalah melakukannya dengan kesadaran penuh dan keikhlasan hati.

Pada era digital, pengorbanan itu bisa dimulai dari hal sederhana: memikirkan ulang sebelum mengklik tautan, meluangkan waktu untuk memverifikasi informasi, dan menyadari bahwa data pribadi adalah amanah yang harus dijaga.

“Mari kita jadikan Idul Adha sebagai momentum untuk berubah dari sekadar korban menjadi pihak yang berkurban secara sadar demi keamanan siber Indonesia yang lebih baik,” kata pria kelahiran Cepu, Kabupaten Blora, Jawa Tengah ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *