Abdul Kholik
Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI asal Jawa Tengah, Abdul Kholik.(Foto Ist)
|

Abdul Kholik: Pesantren Banyak Melahirkan Pejuang Kemerdekaan, Tak Pantas Dilecehkan

SEMARANG[BahteraJateng] – Tayangan tentang pesantren di program Expose Uncensored di Trans7 pada Senin (13/10/2025) menuai kecaman luas karena dinilai merendahkan martabat kiai, santri, dan lembaga pesantren.

Menyikapi polemik tersebut, Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI asal Jawa Tengah, Abdul Kholik, mendesak Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) untuk segera bertindak.

“KPI yang punya otoritas untuk melakukan pengawasan dan penindakan. Saya kira KPI harus segera mengambil tindakan agar masalah ini tidak menimbulkan kegaduhan lain yang tidak perlu,” ujar Kholik di Semarang pada Sabtu (18/10).

Program Expose Trans7 menayangkan video yang memperlihatkan para santri menyalami seorang kiai yang sedang duduk dan turun dari mobil.

Narasi dalam tayangan itu menyebut santri rela ngesot demi menyalami dan memberi amplop kepada kiai. Narator bahkan menilai seharusnya kiai yang memberikan amplop kepada santri.

Cuplikan tersebut langsung menuai reaksi keras dari publik, terutama kalangan pesantren dan netizen yang menyerukan boikot terhadap Trans7.

Menanggapi polemik tersebut, Trans7 telah menyampaikan permohonan maaf secara terbuka pada 14 Oktober 2025 serta memutus kerja sama dengan rumah produksi yang membuat program tersebut.

Pihak manajemen Trans7 juga telah mendatangi Pondok Pesantren Lirboyo di Kediri, Jawa Timur, pada Rabu (15/10) untuk menyampaikan permintaan maaf secara langsung.

Abdul Kholik menegaskan, pondok pesantren memiliki peran besar dalam sejarah bangsa Indonesia.

“Pesantren itu sudah ada sejak sebelum kemerdekaan. Bahkan, mereka telah melahirkan para pejuang dan mujahid,” ujarnya.

Ia menilai peristiwa ini menjadi pelajaran bagi media agar lebih berhati-hati dalam menyajikan informasi.

“Kami sangat prihatin, menolak, serta mengecam sikap-sikap yang merendahkan pesantren dan ulama. Itu bukan karakter bangsa Indonesia,” tegasnya.

“Ulama dan pesantren telah banyak berjuang untuk mencetak tokoh bangsa. Jadi, kalau hari ini mereka dilecehkan, itu sangat tidak pantas,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *