Perum Polri Durenan Indah
Tradisi membasuh kaki ibu dalam peringatan Hari Ibu yang diselenggarakan ibu-ibu Perumahan Polri Durenan Indah RW 6, Kelurahan Mangunharjo, Kec Tembalang, Kota Semarang, Sabtu (20/12).(Dok BahteraJateng/Septi)
|

Begini Cara Ibu-Ibu Perum Polri Durenan Indah Memaknai Hari Ibu

SEMARANG[BahteraJateng] – Sebuah garasi rumah di Perumahan Polri Durenan Indah RW 6, Kelurahan Mangunharjo, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang, mungkin tampak sederhana. Namun, pada Sabtu (20/12), ruang tersebut berubah menjadi panggung penuh emosi. Tidak ada kemewahan hotel berbintang, hanya ada alas sederhana, tawa anak-anak, dan air mata haru yang jatuh di atas punggung kaki para ibu.

Peringatan Hari Ibu 2025 di lingkungan RW 6 ini mengusung tema yang mendalam: “Ungkapan Terima Kasih Seumur Hidup untuk Cinta Seumur Hidup”. Acara dimulai dengan khidmat melalui upacara dan pembacaan sejarah Hari Ibu, mengingatkan kembali bahwa peran perempuan bukan sekadar domestik, melainkan pilar bangsa.

Basuhan Air dan Tangis Haru

Puncak emosi pecah saat anak-anak dari Rumah Pintar (Rumpin) Durenan Indah Cendekia bersimpuh di depan ibu mereka. Dengan tangan-tangan kecil, mereka membasuh kaki sang ibu—sebuah simbol bakti yang tak lekang oleh zaman.

“Tradisi membasuh kaki ini bertujuan agar anak-anak tidak melupakan ibu yang sudah melahirkan dan mendidik mereka, sejak dalam kandungan hingga kapan pun selama hidupnya,” ujar Ketua PKK RW 6, Sintha Lindursari, yang menyebut persiapan acara ini dilakukan intens selama dua minggu oleh pengurus Rumpin dan PKK.Perum Polri Durenan Indah

Menjaga Alam, Menjaga Masa Depan

Tak hanya soal tradisi, acara ini juga menyoroti peran strategis ibu di era modern. Para ibu diberi pelatihan mengenakan kain lilit dengan berbagai model kekinian, menunjukkan bahwa mereka tetap bisa tampil anggun di tengah perubahan zaman.

Lebih jauh lagi, para ibu ini ditantang untuk peduli lingkungan melalui lomba membuat “Haskra” (Hasil Karya) berupa lampion dari barang bekas. Lampu-lampu gantung cantik yang dihasilkan dari limbah menjadi simbol nyata penerapan prinsip 3R (Reuse, Reduce, Recycle).

Penasehat PKK RW 6, Siti Masrochah, menekankan bahwa di era global yang penuh tantangan teknologi, sosok ibu harus menjadi pengendali yang membawa keluarga kembali ke alam (back to nature).

“Ibu terus menjadi bagian penting dari kehidupan. Di era global ini, ibu menjadi pengendali tantangan untuk kembali ke kehidupan alamiah. Lomba lampu gantung dari barang bekas ini adalah simbol peran ibu dalam menyelamatkan lingkungan,” tutur Siti Masrochah dengan semangat.

Kebanggaan dari Rumah Pintar

Kemeriahan juga diisi dengan penampilan gerak dan lagu bertajuk “Semarang Kota Kita”. Penampilan ini bukan sekadar hiburan, melainkan wujud kebanggaan anak-anak yang lahir dan tumbuh di Kota Atlas.

Meskipun digelar di sebuah garasi, energi yang terpancar dari warga RW 6 Mangunharjo ini membuktikan satu hal: bahwa penghormatan kepada ibu tidak butuh kemewahan, melainkan ketulusan. Di antara aroma air mawar dan kilau lampu gantung daur ulang, pesan cinta itu tersampaikan dengan sempurna—bahwa jasa ibu adalah cinta seumur hidup yang tak akan pernah cukup dibayar dengan kata-kata.Perum Polri Durenan Indah

Penulis: Septi Wulandari

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *