Bukan Petani Biasa, Gen Z Bisa Jadi Technopreneur Agribisnis
Oleh: Nataya Maude Kanahasti
Profesi petani selama ini identik dengan kerja fisik yang berat, penuh risiko, dan kerap dipandang sebelah mata. Namun, di tengah era digital dan disrupsi teknologi, muncul generasi baru: technopreneur agribisnis petani modern yang memadukan teknologi, inovasi, dan kepedulian terhadap lingkungan. Generasi z berada pada posisi strategis untuk menjadi pelopor perubahan ini.

Generasi Z tumbuh sebagai digital native. Mereka bukan hanya akrab dengan teknologi, tapi juga menjadikannya alat untuk berpikir dan menyelesaikan masalah. Menurut survei Pew Research Center, lebih dari 90% Gen Z di dunia punya akses smartphone dan aktif di media sosial.
Ini bukan sekadar data, tapi modal sosial yang besar. Dengan perangkat di tangan, mereka bisa belajar pertanian organik, merancang sistem hidroponik dari botol bekas, hingga memasarkan produk lewat Instagram, tiktok, dan e-commerce. Kini, pengetahuan tak lagi eksklusif milik mahasiswa pertanian, tapi siapa saja yang mau mencarinya.

Pertanian kini bukan sekadar soal menanam padi atau memanen sayur. Data bps 2023 mencatat hanya 8,2% petani di indonesia berusia di bawah 35 tahun, sisanya didominasi generasi tua. Ini menandakan dua hal: darurat regenerasi dan peluang besar.
Tanpa petani muda, indonesia bisa menghadapi krisis pangan dalam dua dekade ke depan. Tapi bagi gen z yang berani menembus stigma, ini adalah lahan kosong yang bisa jadi ladang emas. Apalagi, pertanian kini juga menyentuh isu energi terbarukan, konservasi tanah, dan mitigasi perubahan iklim.
Dengan pemanfaatan teknologi, sektor pertanian memasuki era baru yang disebut precision agriculture. Teknologi seperti Internet of Things (IoT), kecerdasan buatan (AI), big data, dan machine learning kini digunakan untuk memantau kelembaban tanah, mendeteksi hama, memperkirakan cuaca, bahkan mengatur irigasi otomatis.
Beberapa startup Indonesia seperti Habibi Garden dan eFishery telah menjadi pelopor dalam penerapan teknologi ini. Habibi Garden mengembangkan sensor pertanian berbasis IoT untuk membantu petani memantau kebutuhan air tanaman secara real time. Sementara eFishery menyediakan teknologi pemberian pakan otomatis untuk budidaya ikan, yang terbukti mampu menghemat biaya dan meningkatkan produktivitas.
Di kota-kota besar, gerakan urban farming menjamur, memanfaatkan ruang sempit di atap gedung, balkon, dan halaman rumah untuk menanam sayur dan buah. Gen Z tidak hanya menanam, tetapi juga mendokumentasikan, membagikan, dan menjual hasilnya secara online. Pertanian tidak lagi dibatasi oleh lahan, melainkan didorong oleh kreativitas.
Lebih jauh lagi, banyak anak muda mendirikan startup agritech, perusahaan rintisan yang menawarkan solusi digital di bidang pertanian, mulai dari e-commerce hasil panen hingga platform edukasi bagi petani desa. Perusahaan seperti TaniHub dan Sayurbox membuktikan bahwa kolaborasi antara petani dan teknologi bisa membuka akses pasar yang lebih luas dan menguntungkan.
Namun, jalan menuju transformasi ini tidaklah mulus. Tantangan pertama adalah stigma sosial. Masyarakat masih banyak yang menganggap bertani sebagai pilihan terakhir, bukan karier yang menjanjikan. Padahal, data dari FAO (2020) menunjukkan bahwa sektor pertanian global mengalami pertumbuhan nilai investasi sebesar 5% per tahun, bahkan selama pandemi. Ini membuktikan bahwa sektor ini tangguh dan menjanjikan jika dikelola dengan benar.
Tantangan kedua adalah keterbatasan akses terhadap pelatihan dan modal. Banyak Gen Z yang memiliki minat tinggi, tetapi bingung harus memulai dari mana. Di sisi lain, akses pendanaan bagi startup pertanian masih tergolong rendah dibanding sektor lain seperti fintech atau edutech.
Namun, terdapat pula kesenjangan antargenerasi. Meskipun Gen Z mahir dalam teknologi, petani senior sering kali kurang literasi digital dan enggan beradaptasi. Di sinilah diperlukan pendekatan kolaboratif. Gen Z bisa menjadi jembatan inovasi dengan cara melibatkan petani-petani lokal dalam proses digitalisasi pertanian. Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan efisiensi, tetapi juga mendorong inklusi sosial dan ekonomi.
Solusi pertama adalah pendidikan. Kurikulum sekolah dan kampus harus menyentuh pertanian modern dan kewirausahaan berbasis teknologi. Tidak cukup hanya teori, tetapi harus ada praktik, program magang di startup agritech, dan inkubator bisnis yang terhubung dengan investor. Pendekatan ini akan membuka jalan bagi Gen Z untuk melihat pertanian sebagai peluang, bukan beban.
Kedua, perlu ada perubahan narasi. Kisah sukses anak muda yang sukses di pertanian harus diangkat ke permukaan. Tokoh seperti Randy Yoga, founder dari iGrow yang memfasilitasi investasi publik dalam proyek pertanian, menjadi contoh nyata bahwa pertanian dan bisnis bisa bersatu dalam satu visi keberlanjutan.
Kolaborasi lintas sektor juga sangat penting. Pemerintah harus menyediakan skema pembiayaan yang ramah untuk usaha rintisan pertanian, institusi pendidikan bisa menjadi pusat riset terapan, dan pihak swasta berperan dalam akselerasi teknologi. Kemitraan antara sektor publik dan swasta akan menciptakan ekosistem agribisnis yang sehat dan berkelanjutan.
Hal ini sejalan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan (SDG) poin kedua, yaitu mengakhiri kelaparan, mencapai ketahanan pangan, dan meningkatkan pertanian berkelanjutan.
Di tengah ancaman krisis pangan global, perubahan iklim, dan ketimpangan ekonomi, kehadiran Generasi Z dalam dunia pertanian adalah harapan baru. Mereka bukan sekadar pemuda biasa, tetapi agen perubahan yang membawa semangat baru dalam mengolah bumi. Dengan laptop di tangan kiri dan cangkul di tangan kanan, mereka menembus batas antara dunia digital dan lahan pertanian. Apa yang dulu dianggap pekerjaan rendahan, kini menjadi simbol kemajuan, ketahanan, dan masa depan.
Pertanian tidak lagi tentang warisan masa lalu, melainkan investasi masa depan. Dan Gen Z adalah generasi yang mampu mengubah paradigma, dari ketergantungan menjadi kemandirian, dari keraguan menjadi keberanian, dari petani biasa menjadi technopreneur agribisnis yang menjawab tantangan zaman dengan inovasi.
Generasi Z memiliki keunggulan lain yang tak kalah penting, yaitu semangat kolaboratif dan akses terhadap komunitas global. Dengan bergabung dalam forum digital, mereka bisa bertukar gagasan dengan technopreneur muda dari berbagai negara. Praktik terbaik dari Belanda, Jepang, dan India bisa mereka pelajari dan adaptasi sesuai kebutuhan lokal. Ini menjadi kekuatan tersendiri karena inovasi dalam pertanian tidak harus datang dari nol, melainkan bisa dimodifikasi dan dikembangkan secara kontekstual. Di sinilah peran Gen Z sebagai agen perubahan yang terbuka dan adaptif terhadap perkembangan global sangat dibutuhkan.
Di samping itu, ekosistem pertanian berbasis komunitas juga mulai berkembang, khususnya di kota-kota besar. Komunitas seperti Kebun Kumara di Jakarta atau Bali Urban Farming mengajak anak-anak muda untuk terlibat dalam pertanian berkelanjutan dengan pendekatan sosial dan lingkungan yang kuat. Aktivitas seperti ini menunjukkan bahwa pertanian bisa menjadi bagian dari gaya hidup sadar lingkungan, bukan sekadar aktivitas ekonomi.
Peran media dan konten kreator pertanian juga semakin terasa dalam menyuarakan pentingnya pertanian modern. Banyak Gen Z yang menggunakan platform seperti YouTube dan TikTok untuk berbagi pengalaman bertani, tips menanam, dan cerita sukses mereka dalam mengembangkan agribisnis digital. Ketika media mainstream belum sepenuhnya memberikan ruang besar bagi narasi pertanian modern, para konten kreator inilah yang menjadi jembatan informasi, edukasi, dan inspirasi.
Dari sisi kebijakan, pemerintah juga harus beradaptasi dengan perkembangan ini. Dukungan terhadap pertanian milenial dan technopreneur muda perlu diperkuat melalui insentif fiskal, penyederhanaan birokrasi perizinan usaha, dan akses terhadap riset serta teknologi. Kementerian Pertanian dan Kementerian Pendidikan bisa bekerja sama menciptakan kurikulum vokasi. Kurikulum ini perlu memadukan keterampilan bertani, kewirausahaan, dan literasi digital.
Lebih jauh lagi, perlu adanya dukungan terhadap penelitian dan pengembangan (litbang) lokal yang mampu melahirkan inovasi teknologi pertanian yang terjangkau dan mudah diakses oleh petani muda. Kampus-kampus pertanian di Indonesia juga dapat membuka jalur inkubasi agritech untuk mendorong lebih banyak mahasiswa menekuni bidang ini secara serius.
Pada akhirnya, pertanian bukan hanya tentang hasil panen, tetapi juga tentang keberlanjutan, keadilan sosial, dan ketahanan bangsa. Gen Z dengan segala potensi yang dimilikinya, bukan hanya menjadi harapan masa depan pertanian Indonesia, tetapi juga penentu arah baru dalam pembangunan ekonomi yang inklusif, berdaya saing, dan berbasis teknologi.
Inilah momentum untuk bangkit dan membangun pertanian yang modern, ramah lingkungan, serta mampu menjawab tantangan zaman.
(Nataya Maude Kanahasti adalah Mahasiswi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta)

