Capaian Damkar Kota Semarang Tahun 2025: Kebakaran Menurun, Layanan Non Kebakaran Naik Drastis
SEMARANG[BahteraJateng] – Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Kota Semarang mencatat tren penurunan jumlah kejadian kebakaran sepanjang tahun 2025.
Hal itu disampaikan Kepala Damkar Kota Semarang, Sih Rianung. Berdasarkan data tahun 2025, jenis kebakaran yang paling banyak terjadi masih didominasi oleh kebakaran lahan ilalang, disusul kebakaran rumah hunian.

“Kebakaran ilalang tercatat sekitar 70 kejadian, sementara kebakaran hunian jumlahnya sedikit di bawah itu,” kata Rianung kepada BahteraJateng pada Jumat (2/1).
Selama 2025 kasus kebakaran di Kota Semarang merenggut 6 korban jiwa, kasus paling menonjol terjadi di wilayah Semarang Timur yaitu lima orang masih satu keluarga meninggal dunia.

Layanan Non Kebakaran
Selain penanganan kebakaran, Damkar Kota Semarang juga mencatat tingginya permintaan layanan non kebakaran atau rescue. Sepanjang 2025, tercatat sebanyak 1.913 kejadian pertolongan non kebakaran, mulai dari evakuasi hingga penyelamatan warga.
“Tingginya laporan ini menunjukkan kepercayaan masyarakat terhadap Damkar semakin besar. Kami ingin peran Damkar benar-benar dirasakan masyarakat,” ujarnya.
Wisata Edukasi dan Mitigasi Kebakaran
Penurunan jumlah kebakaran pada tahun 2025 merupakan hasil dari penguatan upaya pencegahan yang masif kepada masyarakat sejak tahun sebelumnya.
Rianung mengatakan, bahwa pada 2025 pihaknya mendorong program pencegahan secara lebih intensif. Jika pada 2024 kegiatan pencegahan dilakukan sekitar 700 kegiatan, pada 2025 jumlahnya ditingkatkan menjadi sekitar 1.300 kegiatan.
“Alhamdulillah ada hasilnya. Dari sekitar 349 kejadian kebakaran, turun menjadi sekitar 275 kejadian. Artinya masyarakat mulai paham bagaimana mengantisipasi potensi kebakaran,” ujar Rianung.
Dari sisi edukasi, kunjungan wisata edukasi ke markas Damkar juga mengalami peningkatan. Sepanjang 2025, tercatat 292 kunjungan dari sekolah dan masyarakat umum, dengan total pengunjung mencapai sekitar 21 ribu orang, mulai dari tingkat TK hingga SMP.
Untuk memperkuat kesiapsiagaan di tingkat bawah, Damkar Kota Semarang telah membentuk sekitar 1.800 relawan kebakaran yang tersebar di seluruh kelurahan, dengan jumlah sekitar 10–15 relawan per kelurahan.
Kendala Damkar dalam Pelayanan Kebakaran
Rianung menjelaskan, keterlambatan laporan menjadi salah satu penyebab sulitnya penanganan, seperti kejadian di Semarang Timur beberapa waktu lalu.
“Pelaporan masuk saat api sudah membesar, apalagi kejadiannya dini hari. Lokasinya jauh dari jalan, selang harus panjang sekitar 200 meter, sehingga penanganan menjadi lebih sulit,” jelasnya.
Menindaklanjuti kondisi tersebut, Pemerintah Kota Semarang pada tahun 2026 berencana menambah armada pemadam kebakaran berukuran kecil yang mampu menjangkau gang-gang sempit. Rencana pengadaan ini mendapat dukungan langsung dari Wali Kota Semarang.
“Mobil tangki besar tidak bisa masuk gang. Tahun ini kami akan beli mobil kecil yang bisa masuk permukiman padat,” katanya.
Sementara itu, kendala lain yang masih dihadapi adalah akses jalan yang tertutup portal serta keterbatasan hidran yang belum aktif.
Tahun ini, Damkar akan berkoordinasi dengan PDAM untuk mengaktifkan kembali hidran serta menambah titik hidran di lokasi rawan kebakaran.
Rianung juga menyoroti potensi kebakaran di gedung bertingkat sebagai tantangan ke depan. Saat ini, Damkar Kota Semarang belum memiliki mobil tangga untuk evakuasi di gedung tinggi.
“Ini menjadi perhatian serius. Mitigasi harus dilakukan agar keselamatan penghuni gedung bertingkat bisa terjamin,” pungkasnya.

