Digital Eye Strain: Ancaman Senyap di Ruang Kelas Digital
Oleh: Reza Veronika Ramadhan
Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam dunia pendidikan. Penggunaan gawai, komputer, dan layar digital kini menjadi bagian tak terpisahkan dari proses belajar mengajar, khususnya di jenjang pendidikan menengah kejuruan.
Namun, di balik kemudahan akses informasi dan efisiensi pembelajaran, terdapat ancaman kesehatan yang kerap luput dari perhatian, yakni Digital Eye Strain.
Digital Eye Strain merupakan kondisi kelelahan mata akibat paparan layar digital dalam waktu lama. Gejalanya sering dianggap sepele, seperti mata kering, pandangan kabur, sakit kepala, hingga nyeri leher dan bahu. Padahal, jika dibiarkan terus-menerus, kondisi ini dapat berdampak pada penurunan konsentrasi belajar dan produktivitas siswa.
Ironisnya, banyak pelajar yang belum menyadari bahwa kebiasaan menatap layar tanpa jeda, pencahayaan yang kurang tepat, serta posisi duduk yang tidak ergonomis menjadi faktor utama pemicunya.
Fenomena ini menunjukkan bahwa literasi kesehatan digital sama pentingnya dengan literasi teknologi itu sendiri. Sekolah tidak cukup hanya membekali siswa dengan keterampilan menggunakan perangkat digital, tetapi juga perlu menanamkan kesadaran akan cara penggunaannya yang sehat dan bertanggung jawab. Edukasi sederhana seperti aturan 20-20-20, pengaturan jarak pandang, dan manajemen waktu layar dapat menjadi langkah preventif yang efektif.
Peran mahasiswa melalui program pengabdian masyarakat menjadi sangat relevan dalam menjembatani kesenjangan pengetahuan ini. Kehadiran edukasi langsung di lingkungan sekolah mampu membangun kesadaran sejak dini dan mendorong perubahan perilaku yang berkelanjutan.
Dengan demikian, transformasi digital di dunia pendidikan tidak hanya menghasilkan generasi yang cakap teknologi, tetapi juga generasi yang peduli terhadap kesehatan diri.
(Reza Veronika Ramadhan adalah Mahasiswa UNDIP

