Ekspedisi Patriot UNDIP Ungkap Potensi dan Masalah Sawit di Donggala
DONGGALA[BahteraJateng] — Tim 2 Ekspedisi Patriot Universitas Diponegoro (UNDIP) menggelar Focus Group Discussion (FGD) di Kantor Kecamatan Rio Pakava, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah pada Minggu (9/11).
Dalam kegiatan tersebut, tim menemukan sejumlah persoalan mendasar yang menghambat pengembangan komoditas sawit di kawasan transmigrasi Lalundu dan Bambakaenu, meliputi kerusakan infrastruktur jalan serta sengketa lahan yang belum terselesaikan.
FGD yang dihadiri pemerintah kecamatan, perangkat desa, kelompok tani, dan masyarakat transmigran ini menjadi forum strategis untuk merumuskan arah kebijakan pengembangan komoditas unggulan daerah.
Diskusi mengerucut pada tiga isu utama: keterbatasan akses jalan dan jembatan, ketidakjelasan status kepemilikan lahan, serta rendahnya produktivitas sawit akibat penggunaan bibit non-sertifikasi.
Kepala Desa Bukit Indah, Sukarjoni, menuturkan bahwa ketidakpastian lahan dan infrastruktur yang rusak membuat investasi sulit berkembang.
“Kalau jalan dan sertifikat lahan belum beres, investor tidak akan berani masuk. Potensi sawit di kawasan ini sangat besar, tapi kondisi jalannya membuat biaya angkut tinggi dan petani rugi,” ujarnya.
Kondisi tersebut berdampak langsung terhadap harga tandan buah segar (TBS) sawit di wilayah Rio Pakava yang lebih rendah dibanding daerah lain seperti Sumatera dan Kalimantan.
Selain itu, sekitar 40 persen tanaman sawit di wilayah ini diketahui berasal dari bibit cabutan, yang menurunkan produktivitas dan kualitas hasil panen.
Masalah lain yang mencuat adalah mahalnya harga pupuk. Menurut Widayat, dari Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Rio Pakava, petani sawit di kawasan ini tidak menerima pupuk bersubsidi, sementara harga pupuk non-subsidi mencapai tiga hingga empat kali lipat lebih mahal.
“Harga sawit di sini paling rendah, tapi harga pupuk paling mahal. Kami berharap ada perubahan regulasi pupuk subsidi agar lebih adil bagi petani sawit,” jelasnya.
Sebagai tindak lanjut, Tim Ekspedisi Patriot UNDIP melakukan pengambilan sampel tanah yang akan diuji di laboratorium untuk menentukan jenis tanaman potensial pengembangan jangka menengah dan panjang.
Tim yang terdiri atas Muhammad Iqbal Fauzan, Muhammad Naufal, Nafachani Timmu Nafsi, Sholikatul Azizah Nur Fitriani, dan Arla Disayna Azzahra Yuniaz, berkomitmen menghadirkan data ilmiah sebagai dasar kebijakan pembangunan kawasan transmigrasi berbasis potensi lokal.
Ketua Tim 2, Muhammad Iqbal Fauzan, menegaskan pentingnya kolaborasi lintas pihak.
“Kegiatan ini merupakan awal dari kolaborasi antara masyarakat, pemerintah daerah, dan kementerian agar kawasan transmigrasi Rio Pakava dapat tumbuh menjadi pusat ekonomi baru berbasis komoditas unggulan,” tegasnya.
Kegiatan Ekspedisi Patriot UNDIP mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 11 (Kota dan Permukiman Berkelanjutan) melalui penguatan tata kelola wilayah dan infrastruktur, serta SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) dengan mendorong pengembangan komoditas unggulan lokal.(day)


