Insentif Energi Terbarukan Jateng Dongkrak Investasi Kendaraan Listrik Rp15 Triliun di KIS Kendal
SEMARANG[BahteraJateng] — Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menyiapkan insentif bagi kawasan industri berbasis energi terbarukan untuk memperkuat iklim investasi hijau di daerah. Kebijakan tersebut sejalan dengan masuknya investasi kendaraan listrik senilai sekitar Rp15 triliun di Kawasan Industri Seafer (KIS) Kendal.
Komitmen itu disampaikan Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi saat menyaksikan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara PT KIA Kendal dan PT New Generation Mobility (NGM), serta PT NGM dengan PT China State Construction Engineering Corporation (CSCEC), di Kantor Gubernur Jawa Tengah pada Senin (15/6).
Menurut Luthfi, dukungan pemerintah daerah terhadap kawasan industri yang mengedepankan energi terbarukan menjadi bagian dari strategi menarik investasi besar sekaligus mengembangkan industri masa depan di Jawa Tengah.
“Investasi ini tidak hanya menciptakan lapangan kerja, tetapi juga mengarah pada pengembangan teknologi industri masa depan. Kami akan memberikan insentif bagi kawasan industri yang mengedepankan energi terbarukan,” kata Luthfi.
Ia menilai masuknya investasi besar di tengah tantangan ekonomi global menunjukkan Jawa Tengah masih dipercaya investor sebagai daerah tujuan pengembangan usaha.
“Di tengah tekanan dan keterbatasan fiskal, serta dinamika geopolitik internasional, Jawa Tengah tetap tumbuh dan berkembang sebagai tujuan investasi,” ujarnya.
Investasi dari investor asal Tiongkok tersebut akan digunakan untuk membangun ekosistem industri kendaraan listrik terintegrasi di Kendal, mulai dari produksi baterai, ban, hingga komponen kendaraan listrik komersial dan sepeda motor listrik.
Direktur Utama PT Kawasan Industri Seafer (KIS) Kendal Bryan W Sudarwo mengatakan pengembangan kawasan industri berbasis energi terbarukan menjadi salah satu daya tarik investasi di Jawa Tengah.
“Seluruh rantai industrinya akan terintegrasi. Kami mengembangkan kawasan ini untuk mendukung penyerapan tenaga kerja, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi daerah,” kata Bryan.
Pengembangan kawasan industri kendaraan listrik tersebut diperkirakan mampu menyerap hingga 10 ribu tenaga kerja dengan prioritas rekrutmen bagi masyarakat lokal.
Selain penyerapan tenaga kerja, proyek tersebut juga diarahkan untuk mendorong transfer teknologi dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia lokal.
Perwakilan PT NGM, Hadi Hartanto, mengatakan Jawa Tengah dipilih karena memiliki iklim investasi yang kondusif, keamanan sosial yang terjaga, serta dukungan pemerintah terhadap pengembangan industri.
“Jawa Tengah memiliki banyak keunggulan. Selain lokasinya strategis, kondisi sosialnya aman dan kondusif. Kehadiran kawasan ekonomi khusus juga menjadi daya tarik bagi investor,” ujarnya.
Melalui kebijakan insentif energi terbarukan, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah berharap mampu menarik lebih banyak investasi hijau sekaligus mempercepat transformasi industri kendaraan listrik dan energi ramah lingkungan di daerah.(sun)

