Insiden Reservoir Siranda, Joko Susilo Imbau Warga Tenang
SEMARANG[BahteraJateng] – DPRD Kota Semarang meminta masyarakat tetap tenang dan tidak panik menanggapi informasi simpang siur di media sosial terkait temuan mayat di Reservoir Siranda, Kecamatan Gajahmungkur. PDAM Tirta Moedal memastikan aliran air ke pelanggan tidak berasal dari reservoir tersebut.
Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD Kota Semarang, Joko Susilo, menegaskan masyarakat sebaiknya menunggu hasil penyelidikan kepolisian terkait kasus penemuan mayat pada akhir pekan lalu.
Ia menjelaskan, reservoir Siranda sudah lama tidak difungsikan karena tidak memenuhi syarat teknis untuk distribusi air.
“Sebenarnya sudah tidak digunakan cukup lama karena untuk mengalirkan air ke warga butuh air dalam jumlah banyak, harus di atas lima meter. Ini saya ketahui saat menjadi ketua Komisi B beberapa periode lalu,” kata Joko pada Jumat (22/8).
Ia mengapresiasi langkah PDAM yang langsung melakukan pengurusan dan sterilisasi pasca penemuan mayat, meskipun reservoir tersebut tidak lagi difungsikan.
Joko, yang kini menjabat Ketua Komisi A DPRD Kota Semarang, juga menyarankan masyarakat yang masih ragu untuk melakukan uji laboratorium.
“Kalau memang merasa dirugikan, airnya bisa diuji di laboratorium. Yang bisa menentukan terkontaminasi atau tidak itu prosedur dari PDAM dan hasil lab,” tegasnya.
Joko meminta masyarakat tidak panik dan menyerahkan seluruh proses kepada pihak berwenang. Menurutnya, penyelidikan juga harus mencakup penyebab korban bisa masuk ke reservoir.
“Itu yang perlu diselidiki, karena orang bisa masuk dan kenapa itu bisa terjadi. Jadi tunggu hasil penyelidikan resmi. Tidak perlu saling menyalahkan,” pungkasnya.
Reservoir Sira Sudah Tak Difungsikan Sejak Maret
Direktur PDAM Tirta Moedal Kota Semarang, Yudi Indarto, menegaskan Reservoir Siranda berkapasitas 3.750 meter kubik sudah tidak difungsikan sejak Maret 2025. Fasilitas tersebut terdiri atas dua sekat masing-masing 1.850 meter kubik, namun hanya satu yang pernah dipakai sebagai cadangan.
“Jadi saat 5 Juli itu yang dipakai hanya satu sekat untuk backup, sekitar 1.850 kubik. Itu pun hanya melayani sekitar 3.000 pelanggan atau 1,5 persen dari total 200 ribu pelanggan. Sejak Maret sebenarnya sudah tidak kami gunakan lagi,” ujar Yudi, kepada BahteraJateng.
Menurut Yudi, reservoir terakhir difungsikan pada 5 Juli 2025 selama tujuh hingga delapan jam untuk mendukung perbaikan jaringan di wilayah Semarang Barat.
Seusai peristiwa penemuan mayat, reservoir langsung dikosongkan, dibersihkan, kemudian diisi ulang untuk pengambilan sampel laboratorium.
“Hasil laboratorium sampai sekarang masih menunggu,” jelasnya.
Yudi menambahkan, hampir tidak ada akses masuk ke reservoir kecuali celah angin-angin. Namun, salah satu celah diketahui rusak saat penemuan jenazah.
“Nanti biar pihak kepolisian yang menjelaskan bagaimana korban bisa masuk ke area reservoir,” tandasnya.
Menurutnya, pengawasan reservoir tidak seketat fasilitas distribusi harian karena hanya difungsikan sebagai cadangan. Pemeriksaan menyeluruh baru dilakukan ketika fasilitas akan dipakai kembali.

