Iduladha
Ustaz dr. Azhar Arief Sulistyo ketika menyampaikan khotbah di depan para jamaah Salat Iduladha di Lapangan Olahraga Gemuh, Kendal, Rabu (27/5).(Dok. Panitia Iduladha)

Kesuksesan Iduladha Diukur dari Penguatan Sinyal Takwa

SEMARANG[BahteraJateng] – Kesuksesan pelaksanaan Iduladha tidak diukur dari banyaknya hewan kurban yang disembelih, melainkan dari sejauh mana momentum tersebut mampu mengikis sifat fujur dan memperkuat sinyal takwa dalam kehidupan sehari-hari.

Pesan itu disampaikan Ustaz dr. Azhar Arief Sulistyo saat menjadi khatib dan imam Salat Iduladha di Lapangan Olahraga Gemuh, Kabupaten Kendal, pada 27 Mei 2026. Salat Iduladha tersebut dihadiri tokoh Muhammadiyah, Aisyiyah, dan ratusan umat Muslim setempat.

Dalam khutbahnya, Azhar menjelaskan bahwa setiap manusia memiliki potensi fujur dan takwa. Potensi fujur tercermin dalam sifat-sifat buruk seperti rakus, marah, dan tidak tahu malu, sedangkan potensi takwa tampak melalui sifat-sifat baik seperti qanaah, sabar, dan jujur.

Menurutnya, keberadaan sifat fujur bukan untuk mendominasi kehidupan manusia, melainkan sebagai sarana melatih dan menguatkan sifat takwa. Ia mencontohkan bahwa sifat marah diciptakan agar manusia dapat melatih kesabaran.

“Jika sifat takwa lebih dominan dalam jiwa seseorang, maka akan lahir pribadi yang baik secara individu maupun sosial, atau yang disebut insan kamil,” ujarnya.

Azhar menegaskan, orang yang berhasil memaknai Iduladha adalah mereka yang memiliki semangat berkurban karena kedekatan yang kuat dengan Allah SWT. Ketulusan berkorban, kata dia, merupakan wujud nyata dari ketakwaan yang menjadi inti dari ibadah kurban.

Ia mengutip makna yang terkandung dalam ibadah kurban bahwa bukan daging maupun darah hewan sembelihan yang sampai kepada Allah, melainkan ketakwaan dari orang yang melaksanakannya.

Lebih lanjut, Azhar mengingatkan pentingnya menjaga rasa malu sebagai bagian dari keimanan. Menurutnya, hilangnya rasa malu dapat menjadi tanda memudarnya iman akibat dosa yang terus dilakukan.

Karena itu, momentum Iduladha harus dijadikan sarana untuk mengembalikan jiwa kepada fitrahnya, yakni ketenangan dan kecenderungan pada kebaikan. Caranya dengan “menyembelih” sifat-sifat hewani yang masih ada dalam diri manusia.

“Jiwa yang tenang selalu menghadirkan ibadah yang cemerlang, kreativitas yang benderang, dan hasil yang gemilang. Jiwa yang tenang pula yang akan meraih panggilan mesra Ilahi ketika kembali menghadap-Nya,” kata Azhar.

Melalui peringatan Iduladha, umat Islam diajak tidak hanya menjalankan ritual kurban, tetapi juga menjadikan momen tersebut sebagai sarana memperkuat ketakwaan dan memperbaiki kualitas diri dalam kehidupan sehari-hari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *