| |

Mengubah Perspektif Negatif Masyarakat terhadap Profesi Petani

Oleh : Khansa Andani

DI tengah perkembangan teknologi dan berbagai pilihan karier yang semakin beragam, profesi petani masih sering dipandang kurang menjanjikan oleh sebagian masyarakat. Banyak orang menganggap bahwa bekerja di sektor pertanian identik dengan pekerjaan yang berat, penghasilan yang tidak menentu, serta peluang karier yang terbatas. Pandangan tersebut telah berkembang cukup lama dan secara tidak langsung membentuk stigma negatif terhadap profesi petani. Akibatnya, tidak sedikit generasi muda yang lebih memilih bekerja di sektor lain karena menganggap pertanian tidak mampu memberikan masa depan yang baik.

Dibalik pandangan negatif yang masih berkembang di masyarakat, petani merupakan salah satu profesi yang paling penting dalam kehidupan manusia. Setiap orang membutuhkan makanan untuk bertahan hidup, dan sebagian besar bahan pangan tersebut berasal dari hasil kerja petani. Beras, sayuran, buah-buahan, rempah-rempah, hingga berbagai komoditas lainnya tidak akan tersedia tanpa adanya petani yang mengelola lahan dan menghasilkan produk pertanian. Dengan kata lain, petani memiliki kontribusi langsung terhadap keberlangsungan kehidupan masyarakat dan ketahanan pangan suatu negara.

Sektor pertanian hingga saat ini masih menjadi salah satu penopang utama perekonomian masyarakat Indonesia. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa sektor pertanian menjadi lapangan usaha yang menyerap tenaga kerja terbanyak pada tahun 2025 dengan kontribusi sekitar 28,15 persen terhadap total penduduk bekerja. Bahkan, dalam periode Agustus 2024 hingga Agustus 2025, sektor pertanian menyerap tambahan sekitar 490 ribu tenaga kerja. Besarnya peran sektor pertanian menunjukkan bahwa profesi petani masih memiliki posisi yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat. Selain menyediakan bahan pangan, sektor ini juga berkontribusi dalam menciptakan lapangan pekerjaan dan mendukung aktivitas ekonomi di berbagai daerah, terutama di wilayah pedesaan yang masih bergantung pada hasil pertanian sebagai sumber pendapatan utama. Fakta ini menunjukkan bahwa pertanian masih menjadi sumber penghidupan bagi jutaan masyarakat Indonesia.

Meskipun demikian, penghargaan sosial terhadap profesi petani sering kali tidak sebanding dengan kontribusi yang mereka berikan. Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat cenderung lebih mengagumi profesi yang dianggap modern, seperti dokter, insinyur, pengusaha, atau pekerja kantoran. Sementara itu, pekerjaan di sektor pertanian sering dipandang sebagai pilihan terakhir ketika seseorang tidak memiliki kesempatan bekerja di bidang lain. Kondisi ini menunjukkan bahwa masih banyak masyarakat yang memandang nilai suatu profesi berdasarkan status sosialnya, bukan berdasarkan kontribusinya bagi kehidupan.

Pandangan negatif terhadap petani memang tidak muncul begitu saja. Selama bertahun-tahun, sektor pertanian menghadapi berbagai tantangan yang cukup kompleks. Perubahan iklim yang tidak menentu, serangan hama dan penyakit tanaman, keterbatasan lahan produktif, serta fluktuasi harga hasil panen menjadi masalah yang sering dihadapi petani. Dalam banyak kasus, petani harus bekerja keras selama berbulan-bulan tetapi tetap berisiko mengalami kerugian akibat faktor-faktor yang berada di luar kendali mereka. Kondisi inilah yang kemudian memperkuat anggapan bahwa menjadi petani merupakan pekerjaan yang penuh ketidakpastian. Berbagai tantangan yang dihadapi petani saat ini juga menjadi perhatian banyak pihak. Dalam publikasi BPS tahun 2025 mengenai isu sosial ekonomi pertanian, perubahan iklim, dinamika pasar, pembiayaan usaha tani, serta kesejahteraan rumah tangga petani masih menjadi persoalan yang memengaruhi keberlanjutan sektor pertanian. Tantangan tersebut menunjukkan bahwa profesi petani tidak hanya membutuhkan kerja keras, tetapi juga dukungan kebijakan yang tepat agar dapat terus berkembang.

Namun, menganggap profesi petani sebagai pekerjaan yang tidak menjanjikan merupakan pandangan yang kurang tepat. Saat ini sektor pertanian telah mengalami perkembangan yang cukup pesat. Kemajuan teknologi menghadirkan berbagai inovasi yang membantu meningkatkan produktivitas dan efisiensi kerja petani. Penggunaan alat pertanian modern, sistem irigasi yang lebih efektif, teknologi pemantauan tanaman, hingga pemasaran digital telah mengubah wajah pertanian menjadi lebih modern dan kompetitif. Dalam beberapa tahun terakhir, muncul banyak petani muda yang memanfaatkan teknologi dan media sosial untuk mengembangkan usaha pertanian. Fenomena ini menunjukkan bahwa pertanian tidak lagi identik dengan cara kerja tradisional, melainkan juga memiliki potensi sebagai sektor bisnis yang modern dan menjanjikan.

Perkembangan sektor pertanian di berbagai negara maju juga menunjukkan bahwa profesi petani memiliki nilai strategis dan prospek yang baik. Belanda berhasil menjadi salah satu eksportir produk pertanian terbesar di dunia melalui pemanfaatan teknologi rumah kaca, pertanian presisi, dan sistem produksi yang efisien. Di Jepang, berbagai teknologi seperti robot pertanian, sensor, Internet of Things (IoT), dan kecerdasan buatan mulai diterapkan untuk mengatasi berkurangnya jumlah tenaga kerja di sektor pertanian. Sementara itu, Amerika Serikat telah mengembangkan pertanian berbasis mekanisasi dan teknologi presisi yang memungkinkan peningkatan produktivitas serta efisiensi pengelolaan lahan. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa di negara-negara maju, petani tidak hanya dipandang sebagai pekerja lapangan, tetapi juga sebagai pelaku usaha dan pengguna teknologi yang berperan penting dalam menjaga ketahanan pangan dan mendukung perekonomian negara.

Stigma terhadap profesi petani sebenarnya berakar pada pola pikir masyarakat yang masih mengukur kesuksesan berdasarkan status sosial suatu pekerjaan. Kesuksesan sering kali dikaitkan dengan pekerjaan yang dilakukan di gedung perkantoran, menggunakan pakaian formal, atau menghasilkan pendapatan tetap setiap bulan. Akibatnya, pekerjaan yang dilakukan di lapangan seperti bertani dianggap kurang prestisius. Padahal, ukuran kesuksesan seharusnya tidak hanya dilihat dari penampilan profesi, tetapi juga dari manfaat yang diberikan kepada masyarakat dan kemampuan seseorang untuk mencapai kesejahteraan melalui pekerjaannya.

Sistem pendidikan dan media memiliki peran penting dalam membentuk cara pandang masyarakat terhadap profesi petani. Selama ini, pertanian sering dipahami hanya sebagai kegiatan bercocok tanam, padahal sektor ini juga mencakup pemanfaatan teknologi digital, manajemen usaha, inovasi produk, dan kewirausahaan. Di sisi lain, pemberitaan tentang petani sering kali berfokus pada gagal panen atau kemiskinan sehingga memperkuat citra negatif yang sudah berkembang di masyarakat. Oleh karena itu, diperlukan pemahaman yang lebih luas mengenai pertanian modern serta penyebaran kisah-kisah inovasi dan keberhasilan petani agar masyarakat memperoleh gambaran yang lebih seimbang mengenai sektor pertanian.

Generasi muda juga perlu didorong untuk melihat sektor pertanian sebagai bidang yang memiliki masa depan. Kemajuan teknologi membuka banyak peluang baru dalam dunia pertanian, mulai dari pertanian presisi, agribisnis digital, hingga pengolahan hasil pertanian bernilai tambah. Dengan dukungan pendidikan dan kebijakan yang tepat, sektor pertanian dapat menjadi salah satu pilihan karier yang menarik dan menjanjikan.

Namun, berbagai tantangan yang dihadapi petani hingga saat ini menunjukkan bahwa perubahan cara pandang masyarakat saja tidak cukup. Rendahnya minat generasi muda untuk terjun ke sektor pertanian, fluktuasi harga hasil panen, serta keterbatasan akses pasar masih menjadi persoalan yang perlu mendapat perhatian serius. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa profesi petani masih membutuhkan dukungan yang lebih nyata agar dapat berkembang secara berkelanjutan.

Oleh karena itu, diperlukan kerja sama dari berbagai pihak untuk meningkatkan citra sekaligus kesejahteraan petani. Dunia pendidikan dapat mengenalkan pertanian modern yang berbasis teknologi dan kewirausahaan kepada generasi muda. Media juga perlu memberikan ruang yang lebih luas bagi kisah-kisah inspiratif mengenai inovasi dan keberhasilan petani. Di sisi lain, pemerintah perlu memperkuat kebijakan yang berpihak pada petani melalui kemudahan akses permodalan, perlindungan harga hasil panen, serta peningkatan akses terhadap teknologi dan pasar. Dengan langkah-langkah tersebut, profesi petani tidak lagi dipandang sebagai pekerjaan yang kurang menjanjikan, melainkan sebagai profesi strategis yang berperan penting dalam menjaga ketahanan pangan dan masa depan bangsa.

*Khansa Andani adalah mahasiswa Program Studi Agribisnis Fakultas Sains dan Teknologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *