Kirab Budaya Ho Tek Tjing Shin
Kirab Budaya Ho Tek Tjing Shin dalam rangka HUT ke-160 Kelenteng Ling Hok Bio, di kawasan Gang Pinggir Pecinan, Minggu (12/4).(Dok. Panitia Kirab)

Kirab Ho Tek Tjing Shin, Upaya Lestarikan Tradisi Tionghoa Semarang di HUT ke-160 Kelenteng Ling Hok Bio

SEMARANG[BahteraJateng] – Kirab Budaya Ho Tek Tjing Shin yang digelar dalam rangka Hari Ulang Tahun ke-160 Kelenteng Ling Hok Bio menjadi wujud nyata pelestarian budaya dan tradisi Tionghoa di Semarang pada Minggu (12/4).

Kegiatan yang melibatkan peserta dari berbagai daerah di Indonesia ini tidak hanya bersifat seremonial, tetapi juga sarat makna budaya.

Salah satu prosesi utama dalam kirab adalah penyerahan Kim Sin dari masing-masing kelenteng peserta sebagai simbol penghormatan terhadap nilai spiritual dan warisan leluhur.

Sepanjang rute kirab sejauh kurang lebih enam kilometer di kawasan Gang Pinggir Pecinan, masyarakat disuguhi beragam atraksi khas budaya Tionghoa seperti barongsai dan liong, yang diiringi musik tradisional.

Atraksi tersebut menjadi bagian penting dalam menjaga eksistensi kesenian tradisional agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman.

Salah satu peserta kirab dari Yayasan Hoo Hok Bio, Shindu Aji, mengatakan bahwa kirab budaya merupakan sarana untuk merawat identitas budaya sekaligus mengenalkannya kepada generasi muda.

Menurutnya, tradisi seperti Kim Sin hingga pertunjukan barongsai dan liong harus terus dilestarikan agar tidak hilang.

“Kirab ini bukan hanya perayaan, tetapi juga upaya menjaga warisan budaya. Generasi muda perlu tahu dan memahami tradisi yang menjadi bagian dari sejarah panjang komunitas Tionghoa di Indonesia,” ujarnya.

Ia menambahkan, kirab budaya yang telah berlangsung selama ratusan kali ini menjadi ruang interaksi lintas budaya yang memperkuat keberlanjutan tradisi.

Tokoh masyarakat Semarang, Budi S, menilai kegiatan tersebut memiliki nilai strategis dalam pelestarian budaya. Selain sebagai hiburan, kirab juga menjadi media edukasi bagi masyarakat untuk lebih mengenal ragam tradisi Tionghoa.

“Tradisi seperti ini harus terus dirawat bersama. Ini bagian dari kekayaan budaya bangsa yang tidak boleh hilang,” katanya.

Melalui perayaan HUT ke-160 Kelenteng Ling Hok Bio, kirab budaya diharapkan dapat terus menjadi agenda rutin yang tidak hanya meriah, tetapi juga berperan penting dalam menjaga dan mewariskan budaya Tionghoa kepada generasi mendatang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *